HOME

Jumat, 27 Maret 2015

Peran Dan Kiprah Perempuan dalam Peradaban Islam

Latar Belakang
Diskursus perempuan dikaitkan dengan wacana keagamaan menarik untuk dikaji mengingat adanya asumsi bahwa pemahaman agama dalam hal ini teks-teks hadits dianggap telah menjadi pemicu berbagai ketidakadilan terhadap perempuan. Oleh karenanya, mengkaji bagaimana Nabi memposisikan perempuan dalam hadits-hadits adalah sangat penting, mengingat hadits sebagai sumber rujukan kedua dalam memahami ajaran Islam (Muhammad ̳Ajjaj alKhatib, 1989: 19,27; Syuhudi Ismail, 1995: 27)
Secara spesifik, realitas dogmatisasi terhadap teks-teks hadits perempuan dan pemahamannya tercover dalam berbagai bentuk pemahaman tekstual yang mengakar kuat dalam budaya patriarkhi dan menjadikan perempuan terdiskriminasi, serta menjadi obyek dan sasaran ketidakadilan dalam berbagai aspek kehidupan. Dogmatisasi pemahaman terhadap nash alQur‘an dan hadits telah melegitimasi kemapanan budaya patriarkhi yang mengakibatkan banyak kaum perempuan tersubordinasi(dianggap lebih rendah), termarjinalisasi(pemiskinan ekonomi), sebagai korban pelabelan negatif (stereotipe), korban kekerasan (violence), korban eksploitasi seks maupun tenaga (kaum buruh dan pembantu rumah tangga) dan menghadapi double burden(beban ganda) (Masour Fakih, 2003:1223)Begitu banyak kaum perempuan yang tereduksi hak-haknya sebagai manusia yang mandiri, secara material maupun immaterial. Perempuan dianggap tidak setara dengan laki-lakidan tidak memiliki kesempatan yang sama sebagaimana laki-laki (Syafiq Hasyim, 2001:139-238)
Fatima Mernissi dilahirkan pada tahun 1940 di Maroko dan mendapatkan pendidikan pertamanya di sekolah tradisional yang didirikan oleh kaum nasionalis Maroko.Pada masa remaja dia aktif dalam gerakan menentang kolonialime Perancis. Buku  terkenalnya yang telah menempatkannya sejajar dengan penulis-penulis perempuan lain adalah Beyond the Viel : Malle-Female Dynamics in Modern Moslem Society. Bukunya yang sudah terbit di Indonesia adalah Ratu-ratu Islam yang Terlupakan, Bandung, 1994, Perempuan Di dalam Islam, Pustaka, 1994 dan Islam dan Demokrasi: Antologi Ketakutan, Yogyakarta, 1994.
Banyak fakta yang menarik dalam kehidupan Mernissi yang sedikit banyak ada kaitannya dengan perkembangan intelektualitasnya, terutama sikapnya terhadap tradisi Islam dalam hubungannya kehidupan Perempuan.Hal ini secara eksplisit dijelaskan sendiri oleh Mernissi dalam beberapa bagian tertentu dari tulisannya. Dalam Islam dan Demokrasi: Antologi Ketakutan, Mernissi menulis: “Aku dilahirkan di salah satu harem terakhir di kota Fez pada tahun 1940, sesaat sebelum dinding-dinding institusi yang terhormat itu mulai retak atas desakan modernisme.
Sedangkan dalam tulisannya Perempuan dalam Islam Mernissi mengungkapkan secara detail empat fase dari kehidupannya ; masa kanak-kanak, masa ramaja, masa dewasa dan perkenalannya dengan peradaban Barat. Tentang masa kanak-kanak Menissi menulis:
Selama masa kanak-kanak saya memiliki hubungan yang sangat ambivalen dengan al-Qur’an  di sekolah al-Qur’an, kami diajar dengan cara yang keras. Namun Islam bagi pikiran kanak-kanak saya, hanya keindahan rekaan versi nenek saya yang buta huruf.Lalla Yasmina yang telah membuka pintu menuju sebuah agama yang puitis.Bersama Lalla Yasmina kami bisa bermain kata-kata dengan bebas. Sedangkan di sekolah al-Qur’an, jika kami salah melafalkan, paling sedikit kami akan menerima hukuman. Lalla Fatiha (sang guru) begitu terobsesi dengan pelafalan.Sikap ganda terhadap teks-teks suci ini melekat pada diri saya selama bertahun-tahun.
Pada masa remaja Mernissi mulai berkenalan dengan sunnah, yang menurut pengakuannya, sempat membuat dia terluka.
“Di sekolah menengah, pelajaran sejarah agama ditandai dengan pengenalan dengan sunnah. Beberapa hadits yang bersumber dari kitab Bukhari, dikisahkan oleh guru kepada kami, membuat hati saya terluka. Rasulullah mengatakan bahwa “anjing, keledai dan Perempuan, akan membatalkan shalat seseorang apabila ia melintas di depan mereka,menyela diantara orang yang shalat dan kiblat”. Perasaan saya amat terguncang mendengar hadits semacam ini, …dan saya berkata pada diri saya sendiri : bagaimana mungkin Rasulullah menyatakan hadits semacam itu, yang demikian melukai diri saya?
Sikap emosional serta kecenderungan memberontak terhadap apa yang terdapat dalam teks al-Qur’an maupun al-Hadits, kemudian terbawa juga ketika ia menjadi dewasa.
“Bisakah seorang Perempuan menjadi pemimpin kaum muslimin?”, tanya saya kepada pedagang sayur langganan saya, yang seperti halnya kebanyakan pedagang sayuran di Maroko merupakan barometer opini masyarakat. “Naudzubillah min dzalik”!, dia berseru dengan kaget … seorang langganan yang lain kemudian menyerang saya dengan sebuah hadits yang diyakininya mematikan: “suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang Perempuan tidak akan memperoleh kemakmuran”. Kami semua terdiam kalah dan marah, mendadak saya merasakan kebutuhan yang mendesak untuk mengumpulkan informasi mengenai hadits tadi
Perkenalan Mernissi dengan peradaban Barat Modern, semakin mempertajam sikap kritis Mernissi terhadap tradisi keagamaan di dunai Islam, terutama menyangkut perlakuan terhadap Perempuan.
“… jutaan Perempuan Yahudi dan Kristen Sekarang ini menikmati privilese ganda: hak asasi penuh di satu pihak dan akses kepada tradisi keagamaan inspirasional di lain pihak sebagai seorang Perempuan Arab yang secara khusus terpesona oleh cara-cara dimana orang di dunia modern mengelola dan mengintegrasikan masa lampau mereka, saya senantiasa memperoleh kejutan ketika mengunjungi Eropa dan Amerika. Mereka menjual diri mereka sebagai masyarakat supra modern, dan saya menemukan betapa Yahudi dan Kristennya iklim budaya mereka sesungguhnya”.
Dari berbagai fakta tersebut setidak-tidaknya dapat ditarik kesan bahwa pemikiran Mernissi sangat dipengaruhi oleh realitas perlakuan terhadap Perempuan, sebagai fefleksi dari norma agama yang muncul dari dua tradisi yang sangat berbeda; tradisi Arab Islam dan tradisi Barat Kristen. Kedua tradisi keagamaan itu telah memberi warna terhadap dua peradaban besar yang satu sama lain sangat kontras perkembangannya. Peradaban Barat Modern yang dilatar belakangi tradisi Kristen dan peradaban Arab Islam yang terkebelakang sebagai perwujudan norma-norma agama Islam.

Perempuan Dalam Pandangan Islam
Diskursus Perempuan dalam Islam mendapat perhatian yang sangat serius.Peran dan fungsi Perempuan menjadi pokok perhatiannnya. Pada dasarnya Perempuan dan laki-laki dalam pandangan Islam didudukan secara sama dalam hukum. Uraian ini sangat jelas dalam surah An-Nisa 1:
Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan daripadanya Allah menciptakan istrinya dan daripada keduanya lahir menyebarlah banyak pria dan Perempuan.”
Sebuah hadits mengatakan:
Semua manusia adalah sama, bagaikan gigi-gigi sisir. Tidak ada tuntutan kemuliaan seorang Arab atas seorang Ajam (bukan Arab), atau seorang kulit putih atas kulit hitam atau seorang pria atas seorang Perempuan, Hanya ketaqwaan seseorang yang menjadi pilihan Allah.”
Akan tetapi dalam perspektif yang lain Perempuan didudukan sebagai obyek yang harus dipimpin laki-laki: "Lelaki adalah pimpinan bagi Perempuan" (An-Nisa 34) bukan berarti Perempuan tak mendapat kedudukan yang layak. Perempuan dalam batasan tertentu malah menjadi sebuah tonggak negara, dengan peran sertanya dalam mendidik keturunannya.
Perempuan juga menempati diri sebagai sang pengayom bagi siapa saja, sehingga dapat memberikan ketenangan dan kebahagiaan. Ungkapan ini sangat populer lewat sebuah hadits yang mengatakan, "surga di bawah telapak kaki ibu". Dalam sistem Islam, Perempuan ditempatkan dalam 3 kategori besar:
1.      Perempuan sebagai Anggota Umat Beriman
Perempuan sebagai bagian tak terpisahkan dari umat mendapat perlakuan yang sama persis dengan laki-laki. Baik dalam urusan ibadah dan Muamallah, tiada kelebihan laki-laki atas Perempuan. Dengan demikian Perempuan mempunyai hak yang sama dalam usaha melakukan perbaikan (ishlah) dalam masyarakat. Memang dalam batasan tertentu menurut Mazhab Hambali, seorang Perempuan yang kafir tidak disiksa seberat laki-laki kafir.Bahkan dalam sejarah banyak ditemukan bahwa Perempuan bagi umat memberikan makna dan simbol kesucian dengan pengabdiannya yang luar biasa.
Dengan peranannya tersebut Perempuan menjadi sangat mempunyai arti penting dalam dimensi spiritual.Di samping dalam lingkup spiritual, Perempuan juga mempunyai peran penting dalam hal pendidikan anak.
2.      Perempuan Sebagai Anggota Keluarga
Kedudukan Perempuan di keluarga dalam Islam ditempatkan sebagai tempat terhormat. Bahkan Perempuan di rumah tangganya menjadi pilar utama yang akan menopang keberlangsungan keluarga. Kehormatan Perempuan ini tercermin dalam ungkapan hadits: Seseorang bertanya kepada Nabi, pekerjaan apakah yang sangat disenangi Tuhan. Ia berkata: menunaikan shalat tepat pada waktunya. Orang itu melanjutkan: kemudian apa ?Nabi bersabda, bersikap murahlah kepada ayah dan ibumu.
Bahkan dalam ungkapan hadits yang lain, yang paling dihormati di dalam keluarga adalah ibu, baru kemudian ayah. Sebelum kehadiran Islam, seperti yang telah diungkap Qur'an kelahiran seorang Perempuan adalah sebuah aib bahkan jika lahir hidup akan dikubur hidup-hidup. Ini tertuang dalam ayat berikut:
"Apabila seorang di antara mereka menerima berita dengan kelahiran anak perempuan, hitamlah muka mereka dan sangat marah.Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Mereka bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ia akan menanggung kehinaan ataukah akan mengguburnya ke dalam tanah." (QS 16: 58-59)
Dengan mempertimbangkan kejadian ini, maka Al-quran memberikan jaminan persamaan akan hak hidup perempuan:
"Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh ... maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya" (QS. 31:8-9).Dalam pandangan Islam, kedudukan Perempuan di keluarga memberikan makna penjagaan syariat. Dialah pendidik dan penanam utama syariat sedari dini kepada anggota keluarga yang lain. Lebih dari itu, seorang Perempuanakan menjadi peletak kepemimpinan dan syura dalam keluarga. Dari sinilah arti penting Perempuan dalam proses pendidikan dan sosialisasi dalam keluarga.
3.      Perempuan Sebagai Anggota Dalam Masyarakat
Peranan Perempuan dalam masyarakat merupakan pokok persoalan.Di mana kecenderungan penilaian bahwa normativitas Islam menghambat ruang gerak Perempuan dalam masyarakat.Hal ini didukung oleh pemahaman bahwa tempat terbaik bagi Perempuan adalah di rumah, sedangkan di luar rumah banyak terjadi kemudharatan. Pandangan yang paling umum adalah bahwa keluarnya Perempuan dari rumah untuk maksud tertentu dihukumi dengan subhat, antara diperbolehkan dan tidak. Dalam bahasan fiqh ibadah, jika subhat lebih baik ditinggalkan.Sedangkan dalam fiqh muamallah bisa dijalankan dengan rukhshah darurat. Akan tetapi menurut pandangan Qardhawy,[4] bahwa keluarnya Perempuan dari rumah untuk keperluan tertentu adalah diperbolehkan. Bahkan menahan Perempuan di dalam rumah hanyalah bentuk perkecualian dalam jangka waktutertentu sebagai bentuk penghukuman. Hal ini tercermin dalam :
"Maka kurunglah mereka (Perempuan-Perempuan itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya atau sampai Alloh memberi jalan yang lain kepadanya" (QS. 4:15)
Peranan Perempuan dalam masyarakat tidak terpisahkan dari keluarga. Perubahan sosial di masyarakat tidak akan berlangsung jika tidak terdapat gerakan dari keluarga. Keterlibatan Perempuan dalam masyarakat menurut Darleney May adalah; sebagai agen intelektual, sebagai agen ketrampilan masyarakat, sebagai agen di bidang politik, sebagai agen di bidang militer, sebagai agen di bidang hukum dan di bidang ekonomi.

Perempuan Islam Dalam Sejarah
Kiprah Perempuan dalam sejarah menorehkan hasil yang gemilang.Perempuan difahami telah memberikan andil yang besar dalam bidang intelektual klasik. Banyak ditemukan guru-guru agama, perawi hadits, bahkan sufiPerempuan. Siti Aisyah dikenal sebagai pembawa hadist yang sangat berarti, bahkan para shabahat nabi belajar padanya. Dalam sejarah juga diketemukan sufi Rabi'ah Al-Adalawiyah yang dalam maqam sufi dikenal sebagai Perempuan yang sangat berpengaruh di jamannya dengan segala kontroversi yang menyelimutinya.
Disamping berperan dalam agen intelektual dan kemuliaan, Perempuan memegang peranan dalam proses da'wah Islam. Perempuan seperti Asma bin Abu Bakar merupakan contoh bagaimana seorang Perempuan dapat memberikan andil yang sangat berarti untuk menyusun strategi hijrah nabi. Karya-karya besar Perempuan ini menarik para ulama Islam untuk menulis biografi tentang peranan Perempuan dalam jamannya.Tidak kurang dari 35 ulama besar menulis tentang Perempuan dan segala perjuangannya. Ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani (852/1449) menulis kamus biografis pertama tentang semua orang muslim terkemuka yang meninggal pada satu abad tertentu Islam -abad ke delapan Hijrah/Keempat belas Masehi.
Jumlah dan proporsi Perempuan yang terekam ke dalam tulisan ulama meliputi para sahabat. Sahabat merujuk kepada gender laki-laki dan shahabiah merujuk kepada gender perempuan. Artian secara umum generasi shahabat adalah orang-orang yang hidup semasa nabi yang mengakui, menerima Islam dan menerima segala konsekuensinya, baik usia ketika itu sudah dewasa dan kecil. Sahabat dalam pandangan kaum Sunni menempati kedudukan mulia, sedangkan dalam pandangan kaum Syi'ah para sahabat menyimpang setelah Nabi wafat.Dari perspektif ini terlihat bahwa sejarah memberikan peranan yang besar.Peranan besar Perempuan terlihat pertama kali ketika Siti Khadijah (istri nabi pertama) sebagai pengikut pertama Muhammad, bukan dari laki-laki-laki.Kajian ini telah ditelaah oleh Ibnu Sa'ad secara panjang lebar, sepanjang dengan kajian tentang kajian sahabat.
Al-Qur'an sebagai sumber yang paling otoritatif dalam Islam, memberikan uraian yang panjang lebar, bahkan salah satu suratnya merujuk langsung kepada Perempuan (surat An-Nisa'). Banyak ditemukan bahwa Perempuan menjadi sebab turutnya ayat, baik dalam kapasitas peringatan ataupun dalam kapasitas memberikan kejelasan. Ayat tentang Perempuan yang berkait dengan peringatan adalah tentang ayat Hijab dalam Al-Ahzab dan An-Nur, dan ayat tentang tuntutan harta istri nabi, sedangkan ayat tentang sanjungan dan kejelasan adalah ayat yang memberikan keterangan tentang kesucian Aisyah yang sempat didiamkan Nabi dalam surat. Meski kita lihat setting utama yang digunakan adalah istri-istri nabi.
Bahkan dalam keluarga Nabi sendiri, anak Perempuan menjadi sangat dominan. Nabi pernah mempunyai anak laki-laki (Ibrahim bin Muhammad) akan tetapi meninggal dunia ketika masih remaja. Sedangkan anak yang perempuan sebanyak 4 orang, dan yang paling utama adalah Fatimah Zahrah. Bahkan dari generasi Fatimah ini diklaim sebagai generasi yang akan melahirkan keturunan yang paling baik dan ma'shum.
Masalah ini dapat dilihat dengan kemunculan mazhab politik Syi'ah yang kemudian menjadi mazhab Aqidah. Bahkan dalam sejarah varian dari mazhan Syi'ah ini mengambil nama Fatimah az-Zahra sebagai varian dari Syiah. Lebih jauh mazhab ini mampu mendirikan sebuah pemerintahan Fatimiyah Isma'liyyah di Mesir.
Karya Perempuan dalam sejarah Islam adalah keterlibatannya dalam proses ba'iah (sumpah setia). Sumpah setia dari 2 Perempuan Madinah untuk masuk Islam dan setia kepada Nabi tercermin dalam Bai'ah An-Nisa'i (bai'ah Perempuan).Bukan hanya itu saja, dalam bai'ah kedua jumlah Perempuan mencapai 449 Perempuan menyatakan diri masuk Islam dan menerima kerasulan Muhammad, yang kemudian dikenal dengan bai'ah harbi (perang).Bai'ah itu sendiri dimaknai sebagai bentuk kesepakatan atau kontrak sosial.Bai'ah masih satu rumpun dengan kata al-ba'i atau jual beli.Bai'ah ini dilaksanakan di bukit Aqobah, antara Nabi dan orang-orang Madinah.Dalam perspektif yang khusus bai'ah sebagai tonggak berdirinya masyarakat Islam atau sebagai embrio negara Islam Madinah.
Kedudukan Perempuan mendapat posisi yang menakjubkan dalam sejarah, orang yang pertama kali mendapat syahadah adalah Perempuan bukan pria.Orang itu adalah Sumayyah binti Khubbat, yang meninggal di Makkah dibunuh oleh Abu Jahl.Bahkan banyak Perempuan menjadi perantaraan turunnya peristiwa mukjizati, maupun ramalan masa mendatang.
Hal lain yang cukup mengedepan adalah ke-terlibatan Perempuan dalam beberapa pertempuran yang menentukan. Baik dalam masa Nabi maupun dalam masa khilafah Rasyidin. Yang cukup kontroversial adalah keterlibatan Siti Aisyah dalam perang Unta (Jamal) melawan Ali bin Abu Thalib karena masalah pengusutan pembunuhan Utsman yang tidak tuntas.
Di samping analisis di sekitar shahabat dan keluarga Nabi, Perempuan di jaman tabi'in.Perempuan seperti 'Amra binti 'Abdur Rahman, sebagai seorang ahli fiqih yang mempunyai hubungan yang dekat dengan Aisyah.Terdapat pula Hafshah binti Sirin, sebagai seorang ahli hadist generasi kedua dari Basrah, yang terkenal dengan ketaqwaan dan kezahidannya.Ia digambarkan oleh Ibnu Jauzi digambarkan sebagai Perempuan yang shaleh, ia melakukan shalat sepanjang waktu. Terdapat pula Aisyah binti Thalhah --cucu Abu Bakar-- yang dalam sejarah cukup mengandung kontroversi, dari kepandaiannya sebagai penyampai hadist maupun tentang kecantikannya.
Analisis tentang peran Perempuan dalam sejarah dalam zaman Abbasiyah melebar ke dalam masalah politik kenegaraan. Ummu Salamah -istri dari Abu Al-Abbas sang pendiri Abbasiyah-- mempunyai pengaruh yang besar kepada suaminya, bahkan Abu al-Abbas selalu meminta pertimbangannya dalam segala hal. Kemenakan perempuan Harun al-Rasyid - Zubaidah  mampu mempengaruhi untuk mendapatkan hak-hak istimewa. Pengaruh Zubaidah sendiri sampai masa pemerintahan khalifah al-Makmun.
Dalam kekhilafahan Abbasiyah, puncak peran Perempuan dalam masalah politik adalah dengan tampilnya Syajarat Ad-Durr yang sempat memerintah di Mesir selama beberapa bulan.Kapasitas Durr sebelumnya adalah sebagai seorang selir Sultan Ayyubiyah yakni Malik Ash-Shalih Najmuddin. Kemampuan Durr tidak hanya dalam masalah pemerintahan, ia juga terlibat dalam perang melawan pasukan Salib. Dia memerintah karena kondisi yang sangat darurat, yang mengharuskan ia mengambil kekuasaan ketika kondisi pemerintahan kacau, dan ancaman eksternal sangat kuat. Hal demikian juga dialami oleh Ghaziyah, yang memerintah mengatasnamakan putrnya yang masih kecil setelah suaminya meninggal.Ia dilukiskan oleh Adz-Dzahabi sebagai orang yang shaleh dan sopan. Kekayaan tampilnya Perempuan dalam politik banyak di warnai dalam sejarah dinasti Mamluk dan Seljuk.

Kepemimpinan Perempuan : Feminis dan Syari'ah
Kepemimpinan Perempuan merupakan persoalan pelik yang sampai saat ini terus menjadi perbincangan. Lingkup perbincangan tersebut bermula dari tatanan syari'ah yang memberikan barrier berupa sinyalemen hadits bahwa tidak akan beruntung suatu masyarakat jika kepemimpinan diserahkan kepada Perempuan. (Hr. Bukhari)
Interprestasi akan Hadits sebagai sumber kedua setelah Quran biasanya diletakkan kepada persoalan Sanad dan Perawinya. Artinya apakah secara matan (isi) suatu hadits tersebut bertentangan atau tidak dengan Qur'an, atau dapat difahami dengan logika Islam sebagai agama yang fitrah atau tidak. Kemudian interprestasi yang lain adalah berdasarkan kekuatan sanad ataupun pembawanya. Dengan menggunakan kekuatan sanad akan melahirkan jenis hadist dari tingkat Shahih sampai dloif, mursal bahkan palsu.
Menurut Yusuf Qardhawy, hadits ini adalah Shahih sebab periwayatannya dari Abu Bakrah yang kemudian dikutip Bukhari. Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari termasuk ke dalam hadist yang shahih.Sedangkan dari pertimbangan matan, ada yang difahami secara tekstual, ataupun difahami secara kontekstual. Pemahaman secara tekstual akan menyimpulkan bahwa haram hukum Perempuan menjadi kepala pemerintahan. Sedangkan pemahaman secara kontekstual, bahwa hadits tersebut berkaitan dengan diangkatnya seorang Perempuan Persia menjadi pemimpin meski disekitarnya terdapat banyak calon pemimpin yang memadai, hanya karena hukum kerajaan menghendaki demikian.
Mayoritas ulama ushul melihat bahwa pertimbangan keumuman lafazh lebih mengedepan bukan pada kekhususan sebab.Meski demikian Ibnu Abbas dan Ibnu Umar tidak semata-semata itu, hal ini setidaknya melihat dampak dari pemahaman yang demikian dapat menimbulkan kelompok-kelompok seperti Khawarij yang berlebihan dalam agama.Golongan Khawarij dalam menafisrkan ayat maupun hadits secara tekstual, sehingga menjadikan agama sangat berat, bahkan sampai mengkafirkan perbedaan pendapat.
Jumhur ulama sepakat akan haramnya Perempuan memegang kekuasan dalam al-wilayatul-kubra atau al-imamatul-uzhma (pemimpin tertinggi). Di mana Perempuan berperan sebagai pemimpin tertinggi dalam urusan pemerintahan.Sebab dalam matan hadits tersebut terdapat kata "Wallu Amrahum" (Yang Memerintah Kamu Semua), yang ditafsirkan sebagai Khalifah dalam sistem politik Islam.Sehingga jumhur ulama memberikan pengharaman pada Perempuan.Hampir ulama klasik memandang perlu untuk mengetengahkan hawa hak menjadi khalifah adalah haq laki-laki, bukan Perempuan.Ini diungkapkan baik oleh Al-Ghazali, Al-Mawardi, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Khaldun.

Akan tetapi dalam batas kepemimpinan dalam satu bidang tertentu, yang tidak menyeluruh dalam masyarakat, Perempuan berhak mendapatkan itu, seperti dalam kejaksaan, pendidikan bahkan menjadi menteri.Meski demikian perkembangan pemikiran tentang kepemimpinan merupakan hak setiap insan.Pandangan kaum modernis terutama yang diwakili oleh kalangan feminis. Fatimah Mernisi seorang feminis muslim asal Aljazair bahkan secara radikal menyerang pemahaman ulama yang telah membuat fiqh yang diskriminasi kepada perempuan. Banyak hak perempuan dikebiri.Dan shabahat Abu Bakrah dalam hal ini menjadi tertuduh terbesar.Sebab dialah yang mengingatkan Khalifah Ali setelah perang Jamal dengan Aisyah. Abu Bakrah sendiri menurut Mernisi adalah Shahabat yang pernah dihukum oleh Umar bin Khattab karena keraguan dalam memberikan saksi. Sehingga menurut Fatimah Mernisi hadits yang diriwayatkan Abu Bakrah adalah palsu dan tidak bisa dijadikan hujjah.Tampaknya Fatimah Mernisi menjadi sangat emosional, sehingga ketika Ali membenarkan hadits tersebut tak gubris.Bahkan Ali difahami juga turut berbohong demi kepentingan politiknya. Lebih lanjut Hasan bin Ali juga mendukung hadits tersebut, dan disebutnya Hasan bin Ali ada kepentingan karena kekuasaannya akan diambil Muawiyah. Tidak bolehnya Perempuan duduk dalam kepemimpinan politik adalah produk ulama yang bias dengan patriakhi.

Kesimpulan
Ulama klasik memandang perlu untuk mengetengahkan hawa hak menjadi khalifah
adalah haq laki-laki, bukan Perempuan sehingga dalam Peradaban Barat Modern yang dilatar belakangi tradisi Kristen berbeda dengan  peradaban Arab Islam yang terkebelakang sebagai perwujudan norma-norma agama Islam. Namun dalam pandangan umat islam, Perempuan mendapat perlakuan yang sama persis dengan laki-laki. dalam urusan ibadah dan Muamallah, tiada kelebihan laki-laki atas Perempuan dan juga Perempuan mendapat tempat yang paling dihormati di dalam keluarga adalah ibu, baru kemudian ayah dalam hadits tertulis dengan jelas. Perempuan juga difahami telah memberikan andil yang besar dalam bidang intelektual klasik. Banyak ditemukan guru-guru agama, perawi hadits, bahkan sufi Perempuan.

Rujukan : 

- Al Qur’an terjemah Kementrian Agama 2004.

Minggu, 22 Maret 2015

Doa Terindah Untukmu " Umii "

Kasihku takkan putus terhadapmu selamanya 
Terimakasih untuk perjuangan melahirkanku yang tak akan pernah bisa aku balas sampai kapanpun,
Terimakasih untuk memberiku nama sangat indah sebagai wujud do'amu yang kau pilihkan dari nama-nama surga Allah,
Terimakasih untuk kasih sayang dan kesabaran menghadapiku ketika celoteh dan sikap nakalku dikala kecil melelahkan harimu, ketika ku mulai belajar merangkak, engkau dgn sabar menjaga Ketika ku mulai blajar berbicara, engkau dgn sabar mengenalkan bahasa tutur kata dan budi luhur.
Ya Allah, terima kasih Rabb. Engkau telah menurunkan kasih terbesarMu, kasih yang diwakilkan oleh seorang Ibu. 
Kasihmu Ummi tak mampu diungkapi tingginya tak mampu terjangkau dalamnya tak mampu kuselami
Ummi.. kau terindah dihatiku Jasamu takkan terbalas olehku Kau selalu menjagaku Agar ku tak jatuh kedalam Lembah Gelap itu…

Terimakasih untuk selalu menyebut namaku dalam doa-doa disetiap munajatmu tanpa kuminta,
Terimakasih untuk semua hal yang tak dapat kuhitung tentangmu,bahkan mengingatpun aku tak sanggup.
Meski masa yang Allah berikan untuk kebersamaan kita sangat singkat,
Aku hanya ingin engkau tau,
Tak pernah ada sesal bagiku ditakdirkan menjadi anakmu.
Aku bersyukur, aku sangat bahagia.
Maaf jika sampai saat ini aku belum bisa membalas pengorbananmu walau setetes dari lautan kasih sayang yang kau miliki.
Doaku masih sama,
Ya Allah...Sesungguhnya ibuku dalam tanggungan-Mu dan tali perlindungan-Mu
Semoga engkau selalu bahagia bersama orang-orang yang Allah berkahi dengan syafaat dari kekasih-Nya..Aamiin...
 
Thanks umi for Anything,Anytime,and Everything..Aku mencintaimu Umm.
 


Senin, 16 Maret 2015

SIFAT DAN SIKAP ORANG BERTAQWA

Sebahagian dari sifat, sikap, akhlak dan pakaian orang mukmin dan lebih-lebih lagilah orang yang bertaqwa itu ada diceritakan oleh Allah SWT di dalam ayat Al Quran: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu, yang telah percaya dengan Allah dan rasul-rasul dan yang tidak ada pada mereka itu keadaan ragu dan mereka berjuang dengan menggunakan harta-harta dan diri mereka di jalan Allah, merekalah orang-orang yang benar.” (Al Hujurat: 15)
Sifat, sikap atau akhlak orang mukmin dan orang bertaqwa yang dapat difahami dari ayat di atas dapat disenaraikan seperti berikut:
1.           Percaya dengan Allah
2.           Percaya dengan Rasul
3.           Tidak ragu
4.           Mengorbankan harta dan dirinya di jalan Allah
1. Percaya dengan Allah
Yakni percaya dengan Allah secara ‘ainul yakin dan bukan setakat ‘ilmul yakin. Orang mukmin dan orang bertaqwa yang percayakan Allah secara ‘ainul yakin ini, dia merasa hebat dengan Allah SWT. Dia juga rasa gerun kepada Allah manakala hatinya sentiasa rasa malu kepada Allah. Hatinya sentiasa cinta kepada Allah dan redha apa sahaja yang ditimpakan oleh Allah kepadanya.
Selain itu, dia bertawakal kepada Allah sahaja. Yang mana dia percaya hanya Allah sahaja yang boleh membela dirinya. Inilah kepercayaan orang yang percaya kepada Allah secara ‘ainul yakin. Orang ini sudah bertauhid kepada Allah dengan jiwanya, bukan setakat akal atau fikirannya sahaja. Orang yang percaya kepada Allah secara ‘ilmul yakin, itu sekadar imannya sah tetapi amat sukar baginya untuk memiliki sifat sabar dan redha kepada apa sahaja yang Allah timpakan kepadanya. Tidak mungkin dia dapat memiliki sifat tawakal, rasa hebat dan rasa cinta kepada Allah.
Seperti dalam firman Allah SWT: “Hanya sanya orang mukmin yang sebenar itu, apabila disebut sahaja nama Allah, gementarlah hatihati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah, bertambahlah mereka beriman dan mereka terus menyerah diri kepada Allah.” (Al Anfal: 2)
‘Ayat-ayat Allah’ dalam firman ini yang boleh menambah iman orang mukmin itu mempunyai dua maksud iaitu:
i. Ayat-ayat Al Quran yang sebenar.
ii. Ciptaan Allah yang dapat kita lihat dan dengar seperti langit, bumi, laut, gunung-ganang dan sebagainya. Itu adalah tanda kebesaran, kekuasaan dan bijaksana-Nya Tuhan. Itu juga tanda Tuhan itu Maha Mentadbir.
2. Percaya dengan Rasul
Ini bererti percaya dengan sifat-sifat yang wajib ada pada Rasulullah SAW yang diyakini dengan sepenuh keyakinan iaitu siddiq, amanah, tabligh dan fatonah. Siddiq bererti benar dan betul tentang apa yang dikhabarkan serta bersetuju dengan setiap apa yang disampaikannya adalah dari Allah sama ada pada perkataan mahupun perbuatan. Kemudian percaya bahawa pada Rasulullah itu ada sifat amanah, tabligh (menyampaikan) dan juga sifat fatonah (bijaksana).
Orang mukmin yang sebenar, lebih-lebih lagilah orang yang bertaqwa bukan percaya setakat itu sahaja tetapi dia juga mengikuti sunnah Rasul. Dia ikuti sunnah Rasul dalam apa aspek sekalipun termasuk dalam hal makan minum, ber-pakaian, rumah tangga, pergaulan, masyarakat, dalam berjuang dan berjihad, dalam pendidikan dan pelajaran, dalam ekonomi pentadbiran hinggalah kepada soal-soal negara dan alam sejagat.
Jadi orang mukmin dan orang bertaqwa itu, dia bukan sahaja percaya dengan adanya para rasul yang bermula dari Nabi Adam a.s. hinggalah kepada Rasulullah SAW tetapi dia juga ikut menegakkan sunnah Rasulullah SAW atau perjalanan Rasulullah atau cara hidup Rasulullah. Barulah dengan itu akan tertegak dan akan nampak syiar Islam. Dalam Al Quran, kita disuruh oleh Allah untuk mene-gakkan syiar.
Firman Allah SWT:  “Barangsiapa yang membesarkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itulah daripada hati yang bertaqwa.” (Al Hajj: 32)
Orang yang belum mukmin sukar untuk mengikut sunnah Rasulullah. Mereka setakat percaya Rasul itu ada sifat-sifat yang wajib padanya. Akal dapat percaya dan menerimanya tetapi belum sampai menghayati keyakinan itu di dalam hati. Sebab itu dia tidak mampu mengikut perjalanan hidup Rasulullah. Dia lebih mudah ikut cara hidup bintang filem, ahli sukan bahkan cara hidup orang Barat, Yahudi dan Amerika dari mengikut cara hidup Rasulullah.
3. Tidak Ragu
Orang mukmin yang sebenar dan orang bertaqwa, keyakinan-nya tidak goyang walaupun datang ribut taufan. Keyakinannya pada Allah dan Rasul tetap kuat dan padu walaupun orang caci maki dia, walaupun datang peperangan yang begitu sengit dan sebagainya. Hatinya juga tidak berganjak sedikit pun walaupun datang susah atau senang di dalam kehidupannya.
4. Mengorbankan Harta dan Diri di Jalan Allah
Orang mukmin yang sebenar dan orang bertaqwa itu, dia mengorbankan hartanya, jiwanya, dirinya dan tenaganya di jalan Allah. Iaitu dia berkorban menegakkan hukum-hakam Allah yang lima iaitu wajib, sunat, haram, makruh dan harus di dalam kehidupan. Sama ada dalam hal yang mengenai dirinya ataupun rumah tangganya, pergaulannya, kenduri-kendaranya, pendidikannya, ekonominya, politiknya dan seterusnya kepada persoalan negara dan hubungan sejagat.
Di dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya mendapat kemenangan orang mukmin yang khusyuk dalam sembahyangnya. Dan mereka yang menghindari perkara-perkara yang sia-sia. Dan mereka menunaikan zakat. Dan mereka yang menjaga kehormatan kecuali pada isteri mereka dan hamba sahaya milik mereka, maka mereka itu tidaklah dicela. Dan mereka yang melakukan sebaliknya itu adalah melampaui batas. Mereka yang menunaikan amanah dan janji-janji mereka, mereka yang sentiasa memelihara sembahyang mereka. Mereka itulah yang mempusakai Syurga Firdaus dan mereka akan kekal di dalamnya.” (Al Mukminun: 1-11)
Disenaraikan dalam ayat ini sifat-sifat orang mukmin seperti berikut:
1.           Khusyuk dalam sembahyang
2.           Menghindar dari perkara-perkara yang sia-sia
3.           Menunaikan zakat
4.           Menjaga kehormatan
5.           Menunaikan amanah
6.           Menunaikan janji
7.           Sentiasa memelihara sembahyang.
Kupasan bagi sifat-sifat di atas:
1. Khusyuk Dalam Sembahyang
Dalam sembahyangnya, dia merasa kebesaran Tuhan, rasa Tuhan itu hebat, rasa diperhati, didengar dan diketahui oleh Tuhan. Dia rasa lemah, hina dan rendah diri dengan Tuhan. Dalam sembahyang, dia bercakap, berdialog, meminta, mengadu dan bermanja dengan Tuhan.
2. Menghindar Perkara-Perkara Yang Sia-Sia
Yang lahirnya, dia tidak membuat sesuatu yang tidak membawa kepada keredhaan Allah. Dia tidak membuat sesuatu yang tidak jadi ibadah. Kalau dia buat yang harus pun, dijadikannya ibadah dengan mencukupkan syarat-syaratnya. Yang batinnya, dia tidak memikirkan perkara-perkara yang tidak memberi manfaat dan yang tidak membawanya kepada merasa kebesaran Tuhan. Dia juga tidak memikirkan perkaraperkara yang boleh mendorong nafsu.
3. Menunaikan Zakat
Zakat ditunaikan sama ada zakat lahir atau zakat batin. Zakat lahir ialah membahagikan harta kepada lapan asnaf. Ia dikatakan pembersihan harta. Zakat batin ialah membersihkan akal dari perkara yang haram yang boleh membawa kepada syirik dan engkar kepada Tuhan dan membersihkan nafsu dari tamak, dendam dan lain-lain.
4. Menjaga Kehormatan
Yang kecilnya ialah tidak terlibat dengan perkara-perkara seperti bergaul bebas, bercakap-cakap lucah dan mendedahkan aurat. Yang besarnya ialah tidak terlibat dengan zina, liwat, lesbian, homoseks, onani dan lain-lain.
5. Menunaikan Amanah
Menunaikan segala bentuk amanah. Ada tiga bentuk amanah:
a. Amanah dalam agama Islam iaitu beriman, beramal dan memperjuangkannya.
b. Amanah terhadap apa yang Allah kurniakan kepada kita seperti anak-anak, kekayaan, lidah, mata, tangan, kaki dan lain-lain.
c. Amanah yang aradhi yang dipikulkan kepada kita oleh masyarakat atau negara.
6. Menunaikan Janji
Menunaikan segala bentuk janji. Ada dua bentuk janji:
a. Janji yang kita buat di alam roh untuk beriman dan mem-besarkan Allah.
b. Janji yang kita buat kepada sesama manusia.
7. Sentiasa Memelihara Sembahyang
Iaitu menjaga:
a. Waktu sembahyang
b. Syarat, rukun, sah dan batal sembahyang
c. Jaga bacaan dalam sembahyang
d. Jaga makna bacaan
e. Jaga penghayatannya
f. Kalau berjemaah, jaga saf dan barisannya.
Orang mukmin dan bertaqwa itu sangat merendah diri dengan Tuhan. Firman Allah SWT:
Maksudnya:“Dengan Tuhan mereka, mereka merendah diri.”
Mereka sangat takut dengan Tuhan, taat, patuh dan menyerah diri secara total kepada-Nya. Firman Allah Taala:  “Jawapan orang mukmin itu, apabila di-ajak kepada Allah dan Rasul agar menghukum di antara mereka, mereka berkata,‘Kami dengar dan kami patuh’.” (An Nur: 51)
Firman Allah SWT lagi:  “Di antara sifat orang mukmin lelaki dan perempuan, apabila diperintahkan sesuatu perkara sama ada perintah suruh atau larang, tidak ada dolak-dalik.”
Orang mukmin dan orang bertaqwa itu sentiasa terkenangkenangkan Tuhan. Firman Allah SWT:  “Iaitu mereka yang sentiasa mengingati Allah sewaktu berdiri, duduk dan berbaring.” (Ali Imran: 191)
Mereka selalu berbuat kerja-kerja amar makruf nahi mungkar, memberi tunjuk ajar, menjadi pendakwah dan penasihat dan terikat dengan jemaah. Mereka tidak bersendiri macam layang-layang putus tali. Itu bukan sifat orang mukmin atau orang bertaqwa.
Firman Allah Taala: “Orang mukmin lelaki dan perempuan, setengahnya menjadi pembantu bagi yang lain, mereka menyeru orang berbuat baik dan mengajak manusia men-jauhi kemungkaran.” (At Taubah: 71)
Orang mukmin dan orang bertaqwa itu terikat dengan je-maah, dengan pemimpin dan di antara satu sama lain seperti dalam firman Allah SWT: “Orang mukmin dengan orang mukmin itu sentiasa kuat-menguatkan antara satu sama lain.”
Hadis juga ada menyebut: “Antara mukmin dengan mukmin itu ibarat satu bangunan.”
Orang mukmin dan orang bertaqwa itu sifatnya berkasih sayang sesama mereka dan tegas dan keras terhadap kafir (harbi). Mereka berukhwah dan mendamaikan pergaduhan dan menyelesaikan masalah orang lain. Mereka merasa susah dengan kesusahan orang. Mereka turut terhibur dengan kese-nangan orang walaupun mereka sendiri hidup merempat. Mereka membalas kejahatan orang mukmin yang lain dengan kebaikan.
Firman Allah SWT: “Orang mukmin itu sifatnya bersaudara (berkasih sayang), maka damaikanlah antara dua orang yang bertentangan.” (Al Hujurat: 10)
Firman Allah SWT lagi: “Muhammad Rasulullah dan orang-orang yang bersama dengannya (orang mukmin) itu, mereka tegas dan keras terhadap orang kafir (harbi) tetapi sangat berkasih sayang sesama mereka.” (Al Fath: 29)
Sabda Rasulullah SAW:  “Hendaklah kamu berbuat baik dengan orang yang berbuat jahat kepada kamu.”
Orang mukmin yang sejati dan bertaqwa itu, imannya yang begitu teguh mendorongnya bersungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah. Dia tidak hiraukan apa yang akan terjadi sekalipun akan merugikan kepentingan dirinya sendiri.
Seseorang itu boleh menunjukkan akhlak yang baik bila ada matlamat kebendaan atau duniawi yang sesuai dengan kehendak atau kepentingan dirinya. Namun, kalau tidak ada sifat taqwa, akhlak baik ini hanya bersifat sementara sahaja dan tidak dapat bertahan lama. Tapi akhlak yang bersumberkan taqwa kekal dan tidak berubah-ubah kerana ia tidak tunduk kepada kehendak hawa nafsu atau pengaruh orang lain dan masyarakat. Taqwa adalah markas di mana semua sifat yang terpuji terkumpul dan dari situlah lahir tindakan seseorang tanpa mengira sama ada ia mendatangkan manfaat pada dirinya ataupun tidak.
Maka dengan sifat taqwa dalam diri seseorang itu, dia sentiasa mencintai Allah dan taat kepada-Nya. Dia sentiasa tunduk kepada perintah dan peraturan Allah lantas mengamalkan se-gala yang disuruh kerana dia tahu dia berhak mendapat pahala dari tindakannya itu. Dalam pada itu pula, dia sentiasa menjauhkan diri dari perbuatan yang ditegah dan dilarang dan yang akan membawa kecelakaan dunia dan Akhirat. Dengan yang demikian, orang yang bertaqwa sering menjaga kesucian jiwanya, yang disirami dengan amal-amal soleh dan bersih dari segala kekotoran dan kemungkaran serta bersih dari sifat yang rendah dan terhina. Orang yang bertaqwa sedar bahawa dari Islamlah datangnya sifat dermawan, keberanian, adil, dipercayai, arif, jujur, setia, kasih sayang dan lain-lainnya. Orang yang bertaqwa jauh dari sifat takut, bakhil, maksiat, menipu, dusta dan lain-lain sifat yang tercela.
Dengan termaktubnya iman dan taqwa di dalam dada seseorang individu itu, maka terpancarlah akhlak Islamiah di dalam dirinya hingga apa yang dia nampak hanyalah untuk menegakkan kebenaran dan hak sahaja dan berusaha untuk menghapuskan kemungkaran. Akhlak Islamiah yang dibangunkan atas dasar taqwa adalah akhlak yang bercirikan kebajikan yang mutlak yang mana orang yang bertaqwa itu berusaha tidak henti-henti dalam menegakkan amal makruf dan menegah setiap kemungkaran. Kebajikan yang dilaksanakan bukan kerana hendakkan balasan dari manusia tetapi kerana menagih balasan dari Allah. Kerana itu orang yang bertaqwa tidak akan berbuat kebajikan untuk mencari pangkat dan darjat atau kemegahan atau untuk berkuasa atau untuk mendapat keuntungan material. Kebajikan itu menurut nilaian orang yang bertaqwa hanya untuk mencari keredhaan Allah semata-mata.
Berbeza dengan orang yang membuat kebajikan atas do-rongan kebendaan atau keuntungan duniawi, mereka akan melupakan aspek-aspek kerohanian hingga lahirlah tindas-menindas dan tekan-menekan dalam mengejar kebendaan itu. Maka akan lahir nanti masyarakat yang berpecah belah iaitu masyarakat yang anggotanya hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri sahaja. Hidup mereka tidak ubah seperti haiwan atau pokok-pokok di hutan yang matlamat mereka adalah semata-mata untuk survival.
Kebaikan yang diwujudkan oleh individu yang bertaqwa adalah kebaikan yang menyeluruh. Sebab itu Islam adalah agama yang selamat lagi menyelamatkan bagi semua manusia di segala zaman dan di semua tempat. Ia bukan sekadar slogan atau kata-kata kosong yang dipamerkan dan dilaungkan kepada manusia tetapi ia adalah suatu realiti.
Orang yang bertaqwa itu membelanjakan rezeki yang Allah kurniakan kepadanya di jalan yang Allah perintahkan. Ertinya orang yang bertaqwa itu pemurah, lebih suka memberi dari menerima. Kerana cintanya kepada Allah, dia lebih membesarkan Akhirat. Dia tidak menyimpan harta tetapi membelanjakannya kerana Allah untuk simpanan di Akhirat.
Orang yang semata-mata Islam bukan bahan atau material utama untuk menegakkan jemaah atau daulah Islamiah. Kalau tertegak jemaah atau daulah Islamiah di atas orang Islam, jemaah atau daulah itu akan roboh dan hancur, kerana orang Islam takut berjuang dan berkorban serta sangat mementingkan diri sendiri.
Orang bertaqwa sahaja yang berani berjuang dan berkorban. Kerana iman yang kuat, orang bertaqwa menjadi orang yang suka memberi, sanggup bersusah kerana orang lain dan lebih menjaga kepentingan agama dan masyarakat lebih dari kepentingan dirinya sendiri. Orang bertaqwa, mereka berjuang untuk masyarakat.
Orang bertaqwa, dia tidak terlalu gembira dengan kejayaan, tidak terlalu sedih dengan ujian atau kehilangan. Dalam semua keadaan, dia hanya nampak Tuhan. Orang yang bertaqwa, dia sembahyang dengan penuh khusyuk, berpuasa dan berzakat. Apabila cukup syaratnya dia menunaikan fardhu haji. Dia redha dengan ketentuan Allah serta sabar dengan ujian dari Allah. Dia bersyukur pula atas nikmat-nikmat Allah.
Dia menjauhkan diri dari melakukan maksiat seperti ber-zina, minum arak, berjudi dan membunuh. Dia sentiasa men-jaga tutur kata dengan tidak menipu atau berbohong dan tidak bercakap kotor, mengumpat dan mengeji. Dia menjauhkan diri dari sifat-sifat keji seperti bakhil, pemarah, ingin dipuji, takabur, sombong, riyak, ujub, hasad dengki serta berdendam.
Orang yang bertaqwa mempunyai segala ibu atau punca bagi segala sifat-sifat terpuji yang disenaraikan seperti berikut:
1.           Al hikmah (bijaksana)
2.           Syaja’ah (berani)
3.           ‘Iffah (menjaga maruah diri)
4.           ‘Adl (keadilan)
Maka daripada empat sifat inilah lahirnya sifat-sifat mahmudah dalam dirinya. Orang yang bertaqwa adalah pemurah, sabar, suka meminta maaf, jujur, mulia, redha, tawadhuk, tawakal, sentiasa merendah diri, bertolak ansur, pemaaf, lemah lembut, berkasih sayang, berkorban, lapang dada, zuhud, amanah, berlaku benar, membela orang yang terzalim, tahan menerima ujian, takut dan cinta kepada Allah, taat kepada Allah dan takut pada seksa Allah. Kalau sifat al hikmah, syaja’ah, ‘iffah dan ‘adl ini belum kita miliki, maka dengan sendirinya sifat-sifat mahmudah yang lain payah untuk dimiliki.
Kehidupan orang bertaqwa amat sederhana sekali dan dia tidak suka bermewah-mewah. Hidupnya sentiasa tenang dan dia tidak mudah putus asa. Dia sering memikirkan tentang kebesaran Allah. Dia sentiasa membetulkan dan memperbaiki diri serta nasihat-menasihati dengan penuh bijaksana dan kasih sayang. Orang bertaqwa sering berjuang dan berjihad serta banyak membuat kebajikan sesama manusia terutama terhadap sanak saudara, kaum kerabat dan sahabat handai.
Orang bertaqwa itu, hatinya selesai dengan dunia tetapi tidak selesai dengan Tuhan. Dengan dunia, semuanya beres, tidak ada masalah apa-apa. Dengan hal-hal dunia hatinya tenang. Tetapi dengan Allah, hatinya sentiasa bergelora. Dia sentiasa rasa bersalah dan berdosa. Orang yang tidak bertaqwa pula, hatinya selesai dengan Tuhan tetapi tidak selesai dengan dunia. Dengan Tuhan dia rasa tenang. Tetapi dengan hal-hal dunia, hatinya bergelora. Dia membesarkan dunia lebih dari Tuhan.
Orang yang bertaqwa sangat takut kepada Allah kalau ter-buat atau membuat dosa kecil apatah lagi dosa besar. Rasa takut itu macam takutkan gunung yang hendak dihempapkan ke kepalanya. Rasa ngeri, cemas dan bimbang itu sangat mengganggu dirinya. Maka dia bertaubat bersungguh-sungguh minta Allah ampunkan dosanya dan minta dibantu untuk tidak terbuat dosa lagi. Dia takut dengan dosa yang dia mungkin terbuat. Dia selalu bertanya dirinya, “Apa lagi dosa yang akan aku terbuat?”
Ada satu kisah di mana seorang Sahabat baru balik dari medan perang, dia tiba-tiba ternampak di pintu rumahnya betis seorang perempuan (isteri sahabatnya). Terus dia melompat keluar dari pintu dan berlari meninggalkan rumahnya bertahun-tahun, bertaubat dengan Allah kerana ketidaksengajaannya itu. Rintihan taubatnya itu turut menjadi amalan kita sehingga ke hari ini.
Maksudnya: “Tuhanku, aku tidak layak untuk Syurga-Mu. Dan aku juga tidak tahan menanggung akan seksa api Neraka-Mu. Oleh itu ya Allah, terimalah taubatku dan ampunkanlah dosaku kerana sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun dosa-dosa besar.”
Begitulah taqwanya. Begitu takutnya pada Allah kerana kesilapannya, walaupun tidak sengaja. Dia kesal, kenapa perkara haram itu terjadi padanya? Tentu ada maksud Allah. Janganjangan itu sebagai ‘hukuman’ Allah kerana dia masih suka berbuat begitu. Sebab itu Allah temukan dengan perkara itu. Perasaan itu membuatkan dia begitu takut dan malu dengan Allah. Itu membuatkan dia menghukum dirinya sendiri hingga tidak mahu pulang selagi dirinya tidak jadi manusia yang baik, sebaik yang Allah kehendaki.
Sayidina Abu Bakar As Siddiq pernah terleka di kebunnya hingga tertinggal sembahyang berjemaah Asar (bersama Rasulullah SAW). Dengan rasa takut dan kesal yang tidak terkira, terus diwakafkan kebun itu sebagai hukuman pada dirinya. Di samping itu digandakan sembahyangnya sebanyak 70 kali (sebab pahala berjemaah ialah sebanyak 70 kali). Begitulah taqwa para Sahabat. Takutnya mereka pada Allah bila mengenangkan dosa dan api Neraka boleh membawa pengsan dan sesetengahnya terus mati.
Oleh kerana begitu sekali takutnya untuk melakukan kejahatan dan dosa, maka yang tinggal dalam hati mereka hanyalah keinginan yang kuat untuk membuat kebaikan dan amal soleh, kebaikan dengan Allah dan kebaikan dengan sesama manusia. Maka jadilah mereka orang-orang muttaqin, iaitu orang-orang yang:
  • Memahami, meyakini dan menghayati keenam-enam Rukun Iman.
  • Memahami, meyakini dan menghayati kelima-lima Rukun Islam.
  • Menegakkan amal makruf nahi mungkar.
  • Berjihad melaksanakan cara hidup Islam.
  • Berakhlak mulia iaitu berkasih sayang dengan sesama mukmin, tegas dan keras dengan orang kafir, berbelas kasihan dan mengasihi orang yang kurang dan susah seperti mana dia mengasihi dirinya sendiri, pemurah, pemaaf dan suka minta maaf, bertaubat, sabar, bertolak ansur, berlapang dada, bertolong bantu, berani, tawakal, tawadhuk (tidak besar diri), berbaik sangka, bertimbang rasa, merasa gembira dengan kegembiraan orang lain, merasa susah dengan kesusahan orang lain dan memikirkan kepentingan orang lain seperti memikirkan kepentingan diri sendiri.


Semua itu mesti ada untuk seorang yang dikatakan ber-taqwa. Kalau kurang satu pun kuranglah taqwanya. Sebab itu golongan bertaqwa itu dibahagi dua:
  1. Muqarrobin
  2. Solihin


Namun kedua-duanya adalah mukmin sejati. Orang yang hanya ada salah satu daripada ciri-ciri taqwa, tidak boleh dipanggil orang yang bertaqwa tetapi digelarkan sesuai dengan nama sifat baiknya itu. Misalnya orang yang rajin dan bersungguh-sungguh beribadah dipanggil abid. Seorang abid belum tentu bertaqwa kalau ada padanya bakhil, hasad dengki, gila kuasa dan lain-lain.
Seorang yang gigih berjuang dan berjihad dipanggil mu-jahid. Mujahid belum tentu bertaqwa kalau ada padanya sombong, takabur, membazir, tidak sabar, tidak tolak ansur dan lain-lain. Orang dermawan dipanggil assakhi (pemurah). Pemurah belum tentu bertaqwa kalau ada padanya sifat pen-dendam, mengadu domba, berburuk sangka dan lain-lain.
Orang yang gigih berdakwah dipanggil da’i atau mubaligh. Seorang da’i belum tentu bertaqwa kalau dia cuai sembahyang, ambil riba, bebas dengan perempuan ajnabi dan lain-lain. Orang bertaqwa ialah orang yang membuat semua kebaikan yang Allah suruh buat (lahir dan batin, dengan Allah dan dengan sesama manusia), kerana takutnya untuk melakukan dosa walaupun sekecil-kecil dosa. Jangan mudah-mudah mengaku beriman dan bertaqwa sedangkan banyak lagi suruhan Allah SWT yang kita tidak buat. Ertinya kita ini orang berdosa dan hamba Allah yang derhaka. Panggilan yang layak untuk kita ialah mukmin ‘asi atau mukmin yang derhaka atau mukmin yang fasik atau mukmin yang zalim. Bukan mukmin yang sejati, bukan solihin dan lebih-lebih lagi bukan muqarrobin. Kalau mati ketika ini, dalam keadaan taubat tidak diterima, dosa tidak terampun, besar kemungkinan kita akan dilempar ke dalam Neraka.
Jangan pula disalahfahamkan orang bertaqwa itu dengan orang-orang yang jumud dan beku. Iaitu orang-orang penunggu masjid yang berpakaian lusuh, kusut-masai dan miskin papa, anti kemajuan dan anti pembangunan. Generasi taqwa yang menjadi contoh bagi kita bukan orang-orang yang seperti ini. Mereka belum tentu bertaqwa. Contoh kita ialah para salafussoleh dan para Sahabat yang hidup mereka digambarkan begini: “Menjadi pendita (abid) di malam hari, menjadi singa (pejuang) di siang hari.
Dalam keadaan hati mereka rindu dan takut kepada Allah, mereka bertaburan di tengah-tengah manusia di seluruh dunia untuk mengubah dunia dari jahiliah kepada Islam. Dari undangundang taghut kepada kalimah Allah. Dari kekotoran najis dosa kepada kemurnian hati yang bertaqwa. Dari peperangan dan penzaliman kepada keamanan, keadilan dan kemakmuran supaya manusia semua mahu sujud kepada Allah, Tuhan yang menciptakannya dan yang akan mematikannya.
Pada waktu malam yang sunyi sepi, mereka menyembah, memuja dan memuji Tuhan. Mereka mengadu, merintih dan meminta ampun dari Tuhan. Mereka memohon petunjuk, pimpinan dan bantuan Tuhan. Pada siangnya pula mereka berbakti kepada sesama manusia dan berbuat sebanyak-banyak kebajikan dan amalan taqwa.
Bagi orang yang bertaqwa, hiburannya adalah iman, ibadah, zikrullah atau apa sahaja pekerjaan yang akan membawa kepada keredhaan dan kasih sayang Allah. Hatinya tenang dan tenteram. Jiwanya sentiasa hidup dan segar.
Zikrullah itu luas pengertiannya. Ia bukan setakat menyebut puji-pujian, istighfar, selawat, takbir, tasbih dan tahmid di lidah. Zikrullah adalah kerja-kerja hati iaitu mengenal Tuhan dengan hati, rasa bertuhan, rasa cinta dan takut Tuhan, rasa kehambaan yang mendalam, rintihan dan munajat, syukur, sabar, redha dan sebagainya.
Orang bertaqwa itu, jiwanya hidup. Dia terlalu sensitif dengan Tuhan. Tidak berdosa, dia rasa berdosa. Tidak buat salah, dia rasa bersalah. Dia merasakan bahawa dirinyalah yang paling jahat, berdosa, hina, tidak berguna, rasa serba-serbi dhaif, lemah, lalai dan leka di sisi Allah. Justeru itu, dia tidak putus-putus meminta ampun dan bertaubat dengan Tuhan.
Orang bertaqwa itu, kalau dia pemimpin dan berkuasa, dia tidak rasa bahawa kuasa itu adalah kekuasaan dirinya tetapi kekuasaan Allah. Orang bertaqwa, semakin tinggi taqwanya, semakin dia rasa berdosa. Walaupun dia kaya, dia merasa tidak punya apa-apa. Orang bertaqwa merasakan dirinya hamba walaupun dia berpangkat besar. Kalau dia dihina, dia mudah menerimanya kerana hakikatnya dia memang hina. Yang mulia itu Allah.
Orang bertaqwa, walau bagaimana pun hebatnya, dia tenggelam dalam kehebatan Allah. Dialah orang yang paling bebas kerana dia paling kuat terikat dengan Allah. Orang bertaqwa tidak takut dengan makhluk bahkan makhluk takut kepadanya. Orang bertaqwa paling cemas dengan Allah hingga dia tidak cemas dengan malapetaka dunia. Kalau dia mulia, dia akan rasa kemuliaan itu kemuliaan Allah yang dipinjamkan kepadanya.
SIFAT DAN SIKAP ORANG BERTAQWA SECARA KHUSUS
Orang bertaqwa itu mempunyai sikap yang tertentu terhadap berbagai orang dan perkara. Di antara sikap-sikap tersebut adalah seperti berikut:
1. Sikap orang bertaqwa dengan Allah,Tuhannya
Tuhan sangat dibesarkannya melalui ibadah sembahyang, zikir, membaca Al Quran, tasbih dan tahmid. Rasa bertuhan sangat mendalam hingga terserlah pada mukanya dan sikap hidupnya. Seperti merendah diri, pemalu, sabar, redha, tenang, pemurah, tawakal, pemaaf, bertolak ansur, berdisiplin sehingga melihat mukanya mengingatkan kita kepada Allah dan hari Akhirat. Melihat mukanya terasa senang dan tenang.
2. Sikap orang bertaqwa dengan syariat
Syariat sangat dijaga, pakaiannya menutup aurat dan bersih serta kemas. Makan minumnya sangat dijaga dari yang haram dan syubhat. Pergaulan dijaga daripada bergaul bebas lelaki dan perempuan yang bukan muhrim. Matanya selalu ditundukkan, percakapannya disukat dan dikawal daripada tersalah dan tersilap. Pendengarannya juga begitu, sangat dijaga daripada mendengar perkara-perkara yang haram, masanya tidak dibiarkan terbuang dengan sia-sia. Setiap peralihan waktu dia pandai menggunakannya untuk perkara-perkara yang berfaedah dengan kerja-kerja yang sesuai dengan waktu itu.
3. Dengan gurunya
Dia sangat menghormati gurunya. Malu di hadapannya dan merendah diri dengannya. Sekalipun guru yang mengajarnya tentang ilmu dunia. Jasa gurunya selalu dikenang, disebut-sebut nama dan jasanya. Bila ada masa selalu menziarahinya, memberi bantuan dan hadiah. Bukan sahaja gurunya dihormati, bahkan isteri-isteri gurunya dan anak-anak gurunya dihormati juga. Kesalahan gurunya dilupakan, apatah pula dihina dan diberi malu serta diberi umpat. Dia selalu mendoakan gurunya.
4. Dengan ibu bapak
Ibu bapa sangat dihormati, sangat merendah diri di hadapan mereka. Jasa mereka selalu dikenang, bahkan dibalas selalu. Kesusahan mereka dibantu. Kalau mereka orang senang, diberi hadiah selalu. Selalu diziarahi, sering didoakan dan aib mereka ditutup. Bercakap dengan ibu bapa tutur bahasa sangat dijaga. Kalau ibu bapanya memarahinya, dia tidak akan melawan. Kalau pun perlu bercakap, sekadar menjelaskan keadaan.
5. Dengan kawan
Pandai bergaul dengan kawan, setia dengan kawan. Kesusahan kawan ditolong dan dibantu, apatah lagi kalau diminta. Suka menziarahi kawan kalau ada masa. Janjinya ditepati, aib kawan ditutupkan, anak dan isteri kawan dimuliakan, kesalahan kawan dimaafkan walaupun tanpa diminta. Kalau dia yang membuat salah cepat-cepat dia meminta maaf. Menziarahi kawan memilih waktu. Waktu ziarah tidak meliarkan mata. Kehormatan keluarga kawan dijaga.
6. Dengan umum manusia
Dalam pergaulan dengan umum manusia pandai pula menye-suaikan diri. Dalam pergaulan dia sedar diri hingga pandai meletakkan diri pada tempatnya sesuai dengan kedudukannya. Pandai melayan orang sesuai dengan kedudukannya dan mengikut tarafnya. Kalau dia seorang yang pandai atau kaya atau berpangkat, dia tidak sombong atau menunjuk-nunjuk diri di depan orang ramai. Dia tetap tawadhuk dan merendah diri. Kalau dia orang yang serba kurang tidak pula rasa rendah diri atau hina diri lebih-lebih lagi tidak mudah dihambakan orang. Kalau dia susah dia tidak akan meminta-minta apatah lagi menipu. Dia tetap menjaga maruah dirinya. Mudah memberi salam dan mudah pula menjawab salam orang.
7. Dengan tetamu
Dia sangat menghormati dan mengutamakan tetamu. Keper-luan tetamunya, sangat dijaga seperti makan minum dan tempat tinggalnya. Datangnya disambut, kepulangannya dihantar sampai di hadapan pintu atau sampai di hadapan rumahnya hingga hilang dari pandangannya. Dia memberi hadiah kepada tetamu atau memberi buah tangan kalau ada dan di waktu mampu.
8. Dengan anak isteri
Dia mengelokkan pergaulan dengan mereka. Memberi nasihat dan memimpin mereka selalu. Kesilapan mereka dibetulkan dengan bijaksana. Sabar dengan karenah mereka, beribadah fardhu bersama, makan bersama. Kewajipan terhadap anak isteri ditunaikan. Dia mendidik dan mendisiplinkan mereka di dalam semua perkara. Anak-anak yang kecil ditunjukkan kasih sayang. Yang masih belajar didisiplinkan mereka. Tidak sangat ditunjukkan kasih sayang dan tidak pula ditunjukkan benci. Anak yang sudah dewasa atau yang sudah berkeluarga, mereka di buat macam kawan, diajak berbincang dan berbual-bual. Dengan isteri bergurau senda yang tidak berlebih-lebihan, berbual-bual dengannya sesuai dengan kedudukan isteri untuk mengambil dan menjinakkan hatinya. Bagi orang yang ada berbilang-bilang isteri, bertolak ansur dengan mereka dalam hal-hal yang dibolehkan. Boleh juga tidak bertolak ansur di masa-masa yang tertentu walaupun dalam hal-hal yang dibolehkan untuk mendidik mereka.
9. Dengan situasi
Orang bertaqwa sentiasa menjaga maruah diri. Kalau dia lalu di tempat-tempat yang penuh dengan keadaan-keadaan yang boleh melalaikan dan yang boleh jatuh kepada haram, atau yang boleh menggugat iman dia tidak akan terpengaruh. Dia tetap terhormat dengan tidak meliarkan pandangan dan tidak membuka telinga untuk melihat dan mendengar perkara-perkara yang melalaikan itu. Seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi. Hatinya tidak rosak oleh suasana sekelilingnya. Keadaannya macamlah ikan di laut. Dia tidak masin oleh masinnya air laut.
10. Dengan ilmu
Orang bertaqwa sentiasa menambah ilmu dan pengalaman. Makin berumur semakin banyak ilmu. Semakin tua, ilmunya juga ikut tua dan matang. Pengalamannya semakin luas, sangat peka dengan ilmu. Setiap kejadian diambil iktibar dan pengajaran. Setiap isu semasa pandai mengambil hikmahnya, serta pandai menilai buruk baiknya. Hingga mendapat ilmu pengajaran darinya. Serta dia boleh menetapkan pendirian dan sikapnya. Orang bertaqwa itu sepatutnya mengambil tahu setiap kejadian di dunia ini. Sebab itu orang bertaqwa tidak mudah tertipu dan ditipu dan tidak mudah terpengaruh dengan yang negatif. Mereka mudah terpengaruh dengan yang positif. Orang bertaqwa tidak mudah dicorak tetapi mudah mencorak.
11. Dengan masa
Orang bertaqwa sangat menjaga masa. Masa tidak dibuang dan disia-siakan begitu saja. Setiap masa diisi dengan sesuatu yang berfaedah. Bahkan dia pandai membahagi-bahagikan masa mengikut jadual hidupnya. Ada masa untuk beribadah, ada masa untuk membaca, ada masa untuk berjuang, ada masa untuk menziarah, ada masa dengan anak-anak dan isteri-isteri, ada masa untuk tidur baring dan rehatnya. Kalau dia orang penting, ada masa untuk tetamu dan orang-orang yang hendak berjumpa dengannya. Begitulah seterusnya. Baginya masa itu sangat berharga. Masa adalah umurnya. Mensia-siakan masa ertinya mensia-siakan umurnya. Dia sudah tentu tidak akan mensia-siakan umurnya.
12. Dengan harta dan mata benda
Orang bertaqwa, bila berhadapan dengan harta benda dan kekayaan, sangat cemas dan bimbang, takut-takut ia disalah-gunakan. Kerana itu dia bersyukur dengan Tuhan. Digunakan harta benda dan kekayaan itu untuk Allah dan untuk berkhidmat kepada manusia lebih-lebih lagi dia sangat cemas kalau-kalau dia terbuat kerja-kerja yang boleh membazirkan harta benda dan kekayaan itu atau membuangnya kepada yang haram dan sia-sia. Orang bertaqwa merasakan harta benda dan kekayaan adalah amanah Tuhan yang perlu dipertanggungjawabkan se-baik-baiknya. Iaitu untuk diagih-agihkan kepada yang berhak dan yang empunyanya, terutamanya kepada fakir miskin dan kepada jihad fisabilillah.
CONTOH SEJARAH SIFAT DAN SIKAP ORANG-ORANG BERTAQWA
Lihatlah sejarah pemimpin yang bertaqwa. Rasulullah SAW ketika Siti Fatimah minta seorang rampasan perang untuk di-jadikan khadam pembantu rumah, ditolaknya permintaan itu. Sebagai ganti, dimintanya Siti Fatimah berzikir Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan Allahu Akbar 33 kali sebelum tidur. Sehingga jadilah Siti Fatimah semiskin-miskin manusia tetapi dia tetap sabar. Akhirnya dia layak menjadi penghulu wanita di Syurga.
Sayidina Abu Bakar As Siddiq pernah ditanya oleh Sayidina Umar Al Khattab, kenapa dia selalu disebut-sebut oleh Rasulullah dan kenapa dia sangat kuat menanggung ujian. Sayidina Abu Bakar menjawab;
Lazimnya dalam dunia ini ada dua jenis manusia. Satu yang berjuang untuk dunia. Satu lagi yang berjuang untuk Akhirat. Tetapi aku berjuang bukan untuk dunia dan bukan untuk Akhirat. Aku berjuang dan aku berbuat apa pun hanya untuk Allah semata-mata. Aku makan tidak pernah kenyang. Aku kenyang dengan kelazatan bersama Tuhan. Aku minum tidak pernah hilang dahaga kerana aku mabuk cinta dengan Tuhan.
Kalau bertemu dalam satu masa dua kerja, satu kerja ber-bentuk duniawi dan satu lagi kerja berbentuk Akhirat, aku dahulukan kerja Akhirat.
Sayidina Abu Bakar As Siddiq sangat fakir (menyerah) kepada Tuhan. Dia hanya berserah kepada Tuhan dan tidak menagih bantuan dan simpati dari manusia. Bila dia habis korbankan hartanya untuk jihad fisabilillah dan ditanya oleh Rasulullah apa lagi yang ada padanya, dia menjawab, “Allah dan Rasul.”
Sayidina Umar menampal dinding rumahnya sendiri. Pa-kaiannya bertampung dan kasutnya dijahit untuk dipakai lagi, sedangkan kunci perbendaharaan negara berada dalam tangannya. Bila diketahui ada janda dan anak yatim kelaparan, segera ditanggung seguni gandum untuk dihantar ke rumah mereka itu. Khadamnya meminta untuk menanggung guni tersebut tetapi tidak dibenarkan oleh Umar seraya berkata: “Bukan engkau yang akan menanggung dosaku di Akhirat nanti.”
Ketika seekor kambing rakyatnya mati. Sayidina Umar menangis kerana merasakan kematian itu berpunca dari kesa-lahannya. Begitulah taqwanya. Begitulah sensitifnya dia dengan dosa. Sebab itu terkeluar dari mulutnya kata-kata yang ajaib ini: “Sekiranya nanti (di Akhirat), di umumkan semua orang masuk Syurga kecuali seorang, maka aku rasa yang seorang itu adalah aku.”
Alangkah takutnya Sayidina Umar dengan dosa-dosanya. Dirasakan dirinya penuh dengan dosa. Kesilapannya dengan rakyat akan membuatkan dia menangis hingga berbekas aliran air mata pada pipinya. Dia rasa dia tidak selamat walaupun sudah diisytiharkan oleh Rasulullah yang dia termasuk sepuluh orang yang dijamin Syurga. Sebab bagi Sayidina Umar, itu soal Allah hendak bagi dia Syurga sedangkan tidak ada jaminan yang dia tidak berdosa. Kalau begitu, layakkah dia ke Syurga dengan calar-calar dosa yang berbekas pada dirinya. Itulah yang Sayidina Umar tangiskan.
Sayidina Ali k.w. waktu pemerintahannya, setiap pagi jandajanda dan fakir miskin selalu dapat makanan di pintu rumah mereka. Tetapi mereka tidak tahu siapa yang meletakkan rezeki itu di situ. Tidak terfikirlah oleh mereka yang Sayidina Ali yang memberinya kerana dia pun terkenal dengan kemiskinannya. Hingga bila Sayidina Ali wafat, bekalan-bekalan itu terhenti. Maka fahamlah rakyatnya bahawa Sayidina Alilah yang berjalan di waktu malam dari pintu ke pintu rumah fakir miskin, anak yatim dan janda-janda untuk menghantar makanan. Sejak itu terkenal Sayidina Ali dengan panggilan Bapa Fakir Miskin dan Janda.
Sayidina Umar Abdul Aziz, sebaik sahaja diangkat menjadi khalifah, terus mewakafkan semua hartanya untuk negara. Begitulah pemimpin yang bertaqwa. Takut mereka pada dosa membuatkan mereka menyeksa diri untuk rakyatnya. Harta rakyat tidak disentuhnya takut kalau-kalau itu akan jadi sentuhan api Neraka. Jadi, pada mereka, pemimpin adalah seolaholah sebagai kuda tunggangan yang sentiasa berlari ke sana dan ke sini untuk menunaikan kehendak orang ramai. Dan kuda itu sentiasa takut dimarahi oleh Tuannya kalau-kalau kerjanya tidak diselesaikan.