....."MANFAAT SILATURRAHMI ".....
Silaturahmi merupakan
ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Kaum muslimin
hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan
waktu untuk melaksanakan amal shalih ini. Demikian banyak dan mudahnya
alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum
muslimin bersilaturahmi.
Bukankah silaturahmi merupakan satu kebutuhan
yang dituntut fitrah manusia? Karena dapat menyempurnakan rasa cinta dan
interaksi sosial antar umat manusia. Silaturahmi juga merupakan dalil
dan tanda kedermawanan serta ketinggian akhlak seseorang.
Silaturahim
termasuk akhlak yang mulia. Dianjurkan dan diseru oleh Islam.
Diperingatkan untuk tidak memutuskannya. Allah Ta’ala telah menyeru
hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahmi dalam sembilan
belas ayat di kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala memperingatkan orang
yang memutuskannya dengan laknat dan adzab, diantara firmanNya,
فَهَلْ
عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا
أَرْحَامَكُمْ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ
وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ
Artinya: “Maka
apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka
bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang
yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya
penglihatan mereka.” (QS Muhammad 47:22-23).
وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya: “Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu
saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An Nisaa’ 4:1).
Juga sabda Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam ,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barangsiapa
yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya
(dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali)
silaturahim.”
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini di riwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya, Kitabul Adab, bab Man Busitha Lahu Minar Rizqi Bi Shilatirrahim (10/429). Muslim dalam Shahihnya, Kitabul Birri Wal Shilah Wal Adab, bab Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathi’atihaAz Zakat, Bab Fi Shilaturrahmi no. 1693, dengan lafadz, (16/330).
Abu Daud dalam Sunannya,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang suka dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya, maka sambunglah silaturahim.”
At Tirmidzi dalam Jami’nya, no. 1865, Ibnu Majah dalam Sunannya no. 3663 dan Ahmad dalam Musnadnya sebanyak 10 riwayat.
MAKNA KOSA KATA HADITS
- الأَثَ bermakna ajal, karena dia ikuti kepada kehidupan dalam jejak-jejaknya, dan
- بَسْطُ رِزْقِهِ bermakna dilapangkan dan diperbanyak, dikatakan pula bermakna berkah di dalamnya (yakni diberkahi rizkinya).
FAIDAH HADITS
Hadits
yang agung ini memberikan salah satu gambaran tentang keutamaan
silaturahmi. Yaitu dipanjangkan umur pelakunya dan dilapangkan rizkinya.
Adapun
penundaan ajal atau perpanjangan umur, terdapat satu permasalahan;
yaitu bagaimana mungkin ajal diakhirkan? Bukankah ajal telah ditetapkan
dan tidak dapat bertambah dan berkurang sebagaimana firmanNya,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَيَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَيَسْتَقْدِمُونَ
Artinya: “Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS Al A’raf: 34).
Jawaban para ulama tentang masalah ini sangatlah banyak. Di antaranya :
Pertama.
Yang dimaksud dengan tambahan di sini, yaitu tambahan berkah dalam
umur. Kemudahan melakukan ketaatan dan menyibukkan diri dengan hal yang
bermanfaat baginya di akhirat, serta terjaga dari kesia-siaan.
Kedua.
Berkaitan dengan ilmu yang ada pada malaikat yang terdapat di Lauh
Mahfudz dan semisalnya. Umpama usia si fulan tertulis dalam Lauh Mahfuzh
berumur 60 tahun. Akan tetapi jika dia menyambung silaturahim, maka
akan mendapatkan tambahan 40 tahun, dan Allah telah mengetahui apa yang
akan terjadi padanya (apakah ia akan menyambung silaturahim ataukah
tidak). Inilah makna firman Allah Ta’ala ,
يَمْحُو اللهُ مَايَشَآءُ وَيُثْبِتُ
Artinya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (QS Ar Ra’d:39).
Demikian
ini ditinjau dari ilmu Allah. Apa yang telah ditakdirkan, maka tidak
akan ada tambahannya. Bahkan tambahan tersebut adalah mustahil.
Sedangkan ditinjau dari ilmu makhluk, maka akan tergambar adanya
perpanjangan (usia).
Dan yang ketiga.
Yang dimaksud, bahwa namanya tetap diingat dan dipuji. Sehingga
seolah-olah ia tidak pernah mati. Demikianlah yang diceritakan oleh Al
Qadli, dan riwayat ini dha’if (lemah) atau bathil. Wallahu a’lam. [Shahih Muslim dengan Syarah Nawawi, bab Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathi’atiha (16/114)]
Demikian pula Syaikhul Islam berkomentar tentang permasalahan ini dengan pernyataan beliau :
Adapun firman Allah Ta’ala ,
وَمَايُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٍ وَلاَيُنقَصُ مِنْ عُمُرِهِ
…..
Arinya: “Dan sekali-kali tidak diperpanjang umur seorang yang berumur panjang, dan tidak pula dikurangi umurnya…… ” (QS Fathir:11).
Bermakna
umur manusia tidak akan diperpanjang, dan tidak pula akan dikurangi.
Adapun maksud diperpanjangan dan pengurangan disini, bermakna dua hal,
yaitu :
Pertama.
Si fulan berumur panjang, sedangkan lainnya berumur pendek. Maka
pengurangan umur di sini merupakan kekurangannya dibanding yang lainnya,
sebagaimana orang yang panjang umurnya berumur panjang dan yang lain
berumur pendek. Maka pengurangan umurnya menunjukkan dia lebih pendek
dibandingkan yang pertama sebagaimana perpanjangan merupakan tambahan
dibanding yang lainnya.
Kedua.
Bisa jadi makna kurang disini ialah kurang dari umur yang telah
ditentukan, sebagaimana yang dimaksud dengan tambahan adalah tambahan
dari umur yang telah ditentukan.
Sebagaimana dalam Shahihain dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau bersabda :
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang suka dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya, maka sambunglah silaturahim.”
Sebagian
orang berkata, yang dimaksud adalah barakah dalam umurnya dengan
beramal dengan waktu yang singkat sesuatu yang diamalkan oleh orang lain
dalam waktu yang lama. Mereka beralasan, karena rizki dan ajal telah
ditakdirkan dan ditentukan. Maka dikatakan kepada mereka, bahwa barakah
tadi bermakna tambahan dalam amal dan manfaat. Padahal hal tersebut juga
telah ditakdirkan. Bahkan ketentuan tersebut meliputi semua hal.
Jawaban
yang benar ialah : Bahwa Allah telah menetapkan ajal hamba dalam
catatan malaikat. Apabila ia menyambung silaturahim, maka akan
ditambahkan pada apa yang tertulis dalam catatan malaikat tersebut. Jika
ia melakukan amalan yang menyebabkan umurnya berkurang, maka akan
dikurangkan dari apa yang telah tertulis tersebut. Pandangan ini
berdasarkan apa yang ada dalam Sunan Tirmidzi dan lainnya dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam , beliau bersabda,
أَنَّ
آدم لَمَّا طَلَبَ مِنَ اللهِ أَنْ يُرَيَهُ صُوْرَةَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ
ذُرِّيَتِهِ فَأَرَاهُ إِيَاهُمْ فَرَأَى فِيْهِمْ رَجُلاً لَهُ بَصِيْصٌ
فَقَالَ مَنْ هَذَا يَا رَبِّ؟ فَقَالَ ابْنُكَ دَاوُد فَقَالَ فَكَمْ
عُمْرُهُ؟ قَالََ أَرْبَعِوْنَ سَنَةً قَالَ وَكَمْ عُمْرِيْ ؟ قَالَ
أَلْفُ سَنَةٍ قَالَ فَقَدْ وَهَبْتُ لَهُ مِنْ عُمْرِي سِتِّينَ سَنَةً
فَكَتَبَ عَلَيْهِ كِتَابٌ وَشَهِدَتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ فَلَمَّا
حَضَرَتِ الْوَفَاةُ قَالَ قَدْ بَقِيَ مِنْ عُمْرِي سِتُُّوْنَ سَنَةً
قَالُوْا قَدْ وَهَبْتَهَا لإِبْنِكَ دَاوُدَ فَأَنْكَرَ ذَلِكَ
فَأَخْرَجُوْا الْكِتَابَ قَالَ النَّبِيِّ : فنُسِّيَ آدَمُ فَنُسِّيَتْ
ذُرِّيَّتُهَُوَجَحَدَ آدَمُ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ
Artinya: “Sesungguhnya
Adam ketika meminta kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya
wajah-wajah para nabi dari keturunannya, maka Allah pun
memperlihatkannya. Kemudian dia melihat seorang laki-laki yang memiliki
cahaya. Adam bertanya,”Ya Rabbi, siapakah ini?” Allah menjawab,”Anakmu,
Daud.” Lalu beliau bertanya lagi,”Berapa umurnya?” Dijawab,”Umurnya 40
tahun” , beliau bertanya lagi,”Berapa umur saya?” Dijawab,”Seribu
tahun”, Adam berkata,”Saya berikan enam puluh tahun umur saya
kepadanya.” Maka ditulis atasnya suatu kitab yang disaksikan oleh
malaikat. Sehingga ketika akan meninggal dia berkata,”Umur saya masih
tersisa enam puluh tahun.” Malaikat menjawab,”Kamu telah memberikannya
kepada anakmu Daud.” Lalu Adam mengingkarinya dan dikeluarkanlah kitab
tadi. Nabi Shallallahu’Alaihi Wasallam bersabda, “Adam telah lupa, maka
anak keturunannya pun (punya sifat) lupa. Dan Adam telah mengingkari,
maka anak keturunannya pun (punya sifat) mengingkari.” ” [Riwayat
Tirmidzi dalam tafsir Surat Al A’raf dan dia berkata,”Hadits ini hasan
gharib dari jalan ini (11/196). Berkata Al Arnauth dalam Jami’ul Ushul
(2/141). Diriwayatkan oleh Al Hakim, dan beliau menshahihkannya serta
disepakati oleh Adz Dzahabi. Syeikh Al Albani menshahihkannya dalam Shahihul Jami' No. 5209]
Dan
telah diriwayatkan, bahwa umur Adam disempurnakan. Demikian juga umur
Daud telah ditetapkan empat puluh tahun, kemudian ditambah*) enam puluh
tahun. Inilah makna perkataan Umar,”Ya Allah jika Engkau telah menulis,
bahwa saya termasuk orang yang sengsara, maka hapuslah dan tulis saya
sebagai orang yang berbahagia, karena Engkau menghapus apa yang Engkau
kehendaki dan menetapkan (apa yang Engkau kehendaki).” Allah telah
mengetahui apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang belum
terjadi, dan seandainya terjadi bagaimana cara terjadinya. Allah
mengetahui apa yang telah ditulis bagi seorang hamba, dan apa yang akan
ditambahkan kepadanya. Sedangkan para malaikat tidak mengetahui, kecuali
apa yang telah Allah beritahukan kepada mereka. Allah mengetahui segala
sesuatu sebelum dan sesudah terjadinya. Oleh karena itu para ulama
mengatakan, bahwa penghapusan dan penetapan itu terjadi pada catatan
malaikat. Adapun ilmu Allah, maka tidak akan berbeda dan tidak ada yang
baru yang belum diketahuinya. Sehingga tidak ada penghapusan dan
penetapan.[Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah (14/490)]
[*)
Barangkali yang benar adalah,“ditambah baginya” sebagai ganti dari
“dijadikannya”, karena Adam as telah memberikan kepada Daud 60 tahun
dari umurnya, sehingga umur Daud menjadi 100 tahun bukan 60 tahun]
Berkata di tempat lain :
Ajal itu ada dua. Ajal mutlak dan ajal muqayyad. Dengan ini maka jelaslah makna sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang suka dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya, maka sambunglah silaturrahim.”
Karena Allah memerintahkan malaikat untuk menulis ajal seseorang, kemudian berfirman (yang artinya),“Apabila dia menyambungkan silaturahmi, maka tambah sekian dan sekian.”
Dan malaikat tidak mengetahui, apakah akan ditambahkan ataukah tidak.
Sedangkan Allah mengetahui apa yang akan terjadi. Sehingga apabila
datang waktunya, maka tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan.[Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah (8/517)]
Ibnu Hajar Rahimahullah menjawab permasalahan ini, ”Berkata Ibnu Tin, ‘Secara lahiriah, hadits ini bertentangan dengan firman Allah,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَيَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَيَسْتَقْدِمُونَ
Artinya: “Maka
apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS Al A’raf:34).
Untuk
mancari titik temu kedua dalil tersebut dapat ditempuh melalui dua
jalan. Pertama, tambahan (umur) yang dimaksud yaitu kinayah dari usia
yang diberi berkah, karena mendapat taufiq (kemudahan) menjalankan
ketaatan, menyibukkan waktunya dengan hal yang bermanfaat di akhirat,
serta menjaga waktunya dari kesia-siaan. Hal ini seperti sabda Nabi Shallallahu’Alaihi Wasallam
, bahwa umur umat ini lebih pendek dibandingkan umur umat-umat yang
terdahulu. Tetapi kemudian Allah menganugerahi lailatul qadar (malam
qadar).
Kesimpulannya :
Silaturahim dapat menjadi sebab mendapatkan taufiq (kemudahan)
menjalankan ketaatan dan menjaga dari kemaksiatan. Sehingga namanya akan
tetap dikenang. Seolah-olah seseorang itu tidak pernah mati. Dan di
antara hal yang bisa mendatangkan taufiq, yaitu ilmu yang bermanfaat
bagi orang setelahnya, shadaqah jariyah dan anak keturunan yang shalih.
Kedua,
tambahan itu secara hakikat atau sesungguhnya. Hal itu berkaitan dengan
ilmu malaikat yang diberi tugas mengenai umur manusia. Adapun yang
ditunjukkan oleh ayat pertama di atas, maka hal itu berkaitan dengan
ilmu Allah Ta’ala . Umpamanya dikatakan kepada malaikat, umur si fulan
100 tahun jika ia menyambung silaturahmi, dan 60 tahun jika ia
memutuskannya.
Dalam ilmu
Allah telah diketahui, bahwa fulan tersebut akan menyambung atau
memutuskan silaturahim, maka yang ada dalam ilmu Allah tidak akan maju
atau mundur, sedangkan yang ada dalam ilmu malaikat itulah yang mungkin
bisa bertambah atau berkurang. Demikianlah yang diisyaratkan oleh firman
Allah,
يَمْحُو اللهُ مَايَشآءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
Artinya: “Allah
menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia
kehendaki), dan di sisiNya-lah tedapat Ummul Kitab (Lauh Mahfudz).” (QS Ar Ra’d:39).
Jadi,
yang dimaksud dengan menghapuskan dan menetapkan dalam ayat itu ialah
yang ada dalam ilmu malaikat. Adapun yang ada di Lauh Mahfuzh itu,
merupakan ilmu Allah yang tidak akan ada penghapusan (perubahan)
selama-lamanya. Itulah yang disebut dengan al qadha al mubram (takdir atau putusan yang pasti). Sedangkan yang pertama (ilmu malaikat) disebut al qadha al mu’allaq (takdir atau putusan yang masih menggantung).
Yang pertama tampak lebih cocok dengan lafadz hadits di atas. Karena al atsar
ialah sesuatu yang mengikuti yang lain. Apabila diakhirkan, maka
menjadi baik untuk membawanya kepada keharuman nama setelah
meninggalnya. Ath Thibbi berkata, ”Jalan yang pertama lebih jelas…” [Fathul Bari, Kitabul Adab, bab Man Busitha Lahu Fir Rizqi Bi Shilatirrahim (10/429)]
Berdasarkan nukilan ini, jelaslah, bahwa para ulama Rahimahumullah
mempunyai tiga pendapat dalam menafsirkan penambahan umur. Pendapat
pertama, barakah. Pendapat kedua, perpanjangan hakiki atau sesungguhnya.
Pendapat ketiga, keharuman nama setelah meninggalnya.
Akhirnya,
inti yang wajib kita jadikan jalan keluar dari perselisihan makna
memanjangkan umur baik bermakna hakikat ataupun majaz (kiasan), yaitu
memperpanjang umur tersebut dengan menggunakan dan menghabiskannya untuk
mendapatkan tambahan kebaikan. Adapun seseorang yang panjang umurnya
tetapi jelek amalannya, maka ia termasuk sejelek-jelek orang,
sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits Abu Bakrah Radhiyallahu’anhu.
Keutamaan inipun dikuatkan dengan hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhuShallallahu’alaihi Wasallam, yang berbunyi, dari Rasulullah
صِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ الْعُمُرَ
Artinya: “Silaturahim bisa menambah umur.” [Dikeluarkan oleh Al Qadha’i dalam Musnad Asy Syihab dan dihasankan oleh Al Munawi dalam Faidhul Qadir (4/192) dan Al Albani menshahihkannya dalam Shahihul Jami' no. 3776]
Keutamaan silaturahmi yang lainnya, dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam banyak hadits. Diantaranya ialah :
Pertama.
Silaturahmi merupakan salah satu tanda dan kewajiban iman.
Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits Abu Hurairh, beliau bersabda,
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahmi.” (Mutafaqun ‘alaihi).
Kedua.
Mendapatkan rahmat dan kebaikan dari Allah Ta’ala .
Sebagaimana sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam ,
خَلَقَ
اللَّهُ الْخَلْقَ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتْ فَقَالَتْ هَذَا
مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ أَلَا تَرْضَيْنَ أَنْ
أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ
Artinya: “Allah
menciptakan makhlukNya, ketika selesai menyempurnakannya, bangkitlah
rahim dan berkata,”Ini tempat orang yang berlindung kepada Engkau dari
pemutus rahim.” Allah menjawab, “Tidakkah engkau ridha, Aku sambung
orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?” Dia
menjawab,“Ya, wahai Rabb.”” (Mutafaqun ‘alaihi).
Ibnu Abi Jamrah berkata,“Kata ‘Allah menyambung’, adalah ungkapan dari besarnya karunia kebaikan dari Allah kepadanya.”
Sedangkan
Imam Nawawi menyampaikan perkataan ulama dalam uraian beliau,“Para
ulama berkata, ‘hakikat shilah adalah kasih-sayang dan rahmat. Sehingga,
makna kata ‘Allah menyambung’ adalah ungkapan dari kasih-sayang dan
rahmat Allah.” [Lihat syarah beliau atas Shahih Muslim 16/328-329]
Ketiga.
Silaturahmi adalah salah satu sebab penting masuk syurga dan dijauhkan dari api neraka. Sebagaimana sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam,
Artinya: “Dari
Abu Ayub Al Anshari, beliau berkata, seorang berkata,”Wahai Rasulullah,
beritahulah saya satu amalan yang dapat memasukkan saya ke dalam
syurga.” Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab,“Menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan bersilaturahmi.”” (Diriwayatkan oleh Jama’ah).
Silaturahmi
adalah ketaatan dan amalan yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah
Ta’ala, serta tanda takutnya seorang hamba kepada Allah. Sebagaimana
firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang
menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan
mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS Arra’d 13:21).
Demikianlah
sebagian keutamaan silaturahim. Tentunya tidak seorangpun dari kita
yang ingin melewatkan keutamaan ini. Apalagi bila melihat akibat buruk
dan adzab pedih yang Allah Ta’ala siapkan bagi orang yang memutus tali
silaturahim. Karenanya, orang-orang shalih dari pendahulu umat ini
membiasakan diri menyambung silaturahim, walaupun sulit sarana
komunikasi pada jaman mereka. Sedangkan pada zaman sekarang ini, dengan
tercukupinya sarana transportasi dan komunikasi, semestinya membuat kita
lebih aktif melakukan silaturahim. Kemudahan yang Allah Ta’ala berikan
kepada kita tersebut, hendaknya dipergunakan untuk silaturahim. Mungkin
salah seorang dari kita melakukan perjalanan ke negeri yang jauh untuk
wisata, akan tetapi dia merasa berat untuk mengunjungi salah seorang
kerabatnya yang masih satu kota dengannya -kalau tidak saya katakan satu
daerah dengannya- padahal paling tidak hubungan tersebut dapat
dilakukan dengan hanya mengucapkan salam. Apa beratnya mempergunakan
telepon untuk menghubungi salah satu kerabat kita dan mengucapkan salam
kepadanya?
Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
بَلُوْا أَرحَامَكُمْ وَلَوْ بِالسَّلاَمِ
Artinya: “Sambunglah keluargamu meskipun dengan salam.”
[Riwayat Al Bazzar, Ath Thabrani dan Al Baihaqi. Berkata Al Munawi
dalam Faidhul Qadir, “Berkata Al-Bukhari,’Semua jalannya dha’if, akan
tetapi saling menguatkan (3/207)’.” Al Albani menghasankannya dalam Shahihul Jami' no. 2838]
Mungkin
ada yang mengatakan, di antara penyebab terputusnya silaturahmi ialah
banyaknya kesibukan manusia pada hari ini dan keluasan wilayah. Tetapi
orang yang memperhatikan keadaan semisal Abu Bakar dan Umar Al Faruq Radhiyallahu’anhuma
. Pada masa pemerintahannya, meskipun banyak beban yang harus dipikul
di pundak mereka dan belum lengkapnya sarana transformasi dan komunikasi
modern, akan tetapi mereka tetap memiliki waktu untuk mengunjungi
kerabatnya dan membantu tetangganya. Sedangkan diri kita sering
mengunjugi dan bercengkrama dengan sahabat-sahabat, tetapi tidak pernah
memasukkan ke dalam agenda kegiatan untuk berkunjung ke salah satu
kerabat, meskipun satu kali dalam sebulan.
Tampaknya
sebab utama yang menghalangi kita bersilaturahim, karena buruknya
pengaturan dan manajemen waktu. Atau karena kita kurang begitu mengerti
besarnya dosa memutus silaturahim. Kemudian dengan kesibukan yang
berlebihan dalam kehidupan dunia,. hingga kita mendapati seseorang
bekerja pada pagi hari. Setelah itu menyibukkan diri dengan pekerjaan
lain pada sisa harinya. Padahal sudah berkecukupan dalam hal rizki.
Lantas, mengabaikan hak-hak keluarga, anak-anak, kedua orang tua dan
kerabatnya.
Maka
sepatutnyalah engkau, wahai saudaraku muslim. Hendaklah bersemangat
memanjangkan umurmu dengan bersilaturahim. Ketahuilah, barangsiapa yang
menyambungnya, niscaya Allah Ta’ala akan berhubungan dengannya. Dan
barangsiapa memutuskannya, maka Allah pun akan memutuskan hubungan
dengannya. [Untuk tambahan, lihat kitab Al Adab Asy Syar’iyyah Wal Minah Al Mur’iyyah, oleh Ibnu Muflih, Juz 1 dan kitab Shilaturrahim Fadluha Ahkamuha Itsmu Qathi’iha, oleh Syaikh Muhammad Thabl dan Ibrahim Muhammad]
Jumat, 01 Februari 2013
Jika kamu takut
melangkah, lihatlah bagaimana seorang bayi yang mencoba berjalan.
Niscaya akan kau temukan, bahwa setiap manusia pasti akan jatuh. Hanya
manusia terbaik lah yang mampu bangkit dari ke jatuhannya. Read more at:
http://hujangede.blogspot.com/2011/12/kumpulan-kata-kata-mutiara-bijak-2012.html Copyright by hujangede.blogspot.com Terima kasih sudah menyebarluaskan aritkel ini
Selasa, 29 Januari 2013
Rabu, 23 Januari 2013
Pesan Nabi kepada Umatnya
Saw Kepada Kita, Apakah Yang Harus Kita Perbanyak ?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (HR. Ibnu HIbban dan dishahihkan dikitab Shahih Al Jami)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلم « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِصلى الله عليه وسلم فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم
ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ:
«أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ:
«أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ
اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”, beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi: “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Ibnu Majah).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (HR. Ibnu HIbban dan dishahihkan dikitab Shahih Al Jami)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”, beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi: “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Ibnu Majah).
10 Pesan Nabi Muhammad SAW sebelum Wafat
10 Pesan Nabi Muhammad SAW Kepada Putrinya Fatimah Az-Zahra.
Awalnya secara tidak sengaja saya menemukan eBook yang membahas tentang 10 Pesan Nabi Muhammad SAW Kepada Putrinya Fatimah Az-Zahra ini di perpustakaan, dan tiba-tiba muncul keinginan saya untuk mencoba menulis ulang di dalam blog saya ini sebagai bahan tambahan ilmu pengetahuan dan referensi bagi teman-teman sekalian yang membutuhkan nya.
Silahkan di simak 10 Pesan Nabi Muhammad SAW Kepada Putrinya Fatimah Az-Zahra ini yang berhasil saya kutip dari berbagai sumber.
1).Ya, Fatimah kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.
2). Ya, Fatimah kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka 7 tabir pemisah.
3).Ya, Fatimah. Tiadalah seorang wanita yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaianya, melainkan Allah menetapkan pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
4). Ya, Fatimah, Tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahanya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
5). Ya, Fatimah, yang lebih utama dari keutamaan diatas adalah keridhoan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu,maka akt tidak akan mendo'akanmu. Ketahuilah, Wahai Fatimah. Kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6). Ya, Fatimah. Apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya,dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan.Ketika wanita merasakan sakit akan melahirkan,Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah.
Setelah seorang wanita melahirkan kandunganya,maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia di lahirkan dari kandungan ibunya.
Apabila seorang wanita meninggal dunia ketika melahirkan,
maka dia tidak akan membawa dosa sedikit pun dan akan di anggap sebagai mati syahid.
Di dalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman syurga.
Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala 1000 orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu Malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7). Ya, Fatimah, Tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang dan ikhlas,melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan Allah memberikan kepadanya pahala 100 kali beribadah haji dan umrah.
8). Ya Fatimah, Tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami,
melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih sayang (rahmat).
9). Ya, Fatimah, Tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para Malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya,dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10). Ya, Fatimah. Tiadalah seorang wanita yang membantu meminyaki kepala suaminya dan menyisir rambutnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman dari air syurga yang di kemas indah yang di datangkan dari sungai-sungai Syurga.Dan Allah mempermudah sakaratul maut baginya,
bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi siratal-mustaqin dengan selamat.
Semoga apa yang telah saya uraikan di atas dapat berguna dan bermanfaat bagi kawan-kawan sekalian, mohon maaf dan silahakan di koreksi apabila masih terdapat kalimat atau kata-kata yang kurang tepat. Wassalam. :)
Awalnya secara tidak sengaja saya menemukan eBook yang membahas tentang 10 Pesan Nabi Muhammad SAW Kepada Putrinya Fatimah Az-Zahra ini di perpustakaan, dan tiba-tiba muncul keinginan saya untuk mencoba menulis ulang di dalam blog saya ini sebagai bahan tambahan ilmu pengetahuan dan referensi bagi teman-teman sekalian yang membutuhkan nya.
Silahkan di simak 10 Pesan Nabi Muhammad SAW Kepada Putrinya Fatimah Az-Zahra ini yang berhasil saya kutip dari berbagai sumber.
1).Ya, Fatimah kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.
2). Ya, Fatimah kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka 7 tabir pemisah.
3).Ya, Fatimah. Tiadalah seorang wanita yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaianya, melainkan Allah menetapkan pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
4). Ya, Fatimah, Tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahanya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
5). Ya, Fatimah, yang lebih utama dari keutamaan diatas adalah keridhoan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu,maka akt tidak akan mendo'akanmu. Ketahuilah, Wahai Fatimah. Kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6). Ya, Fatimah. Apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya,dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan.Ketika wanita merasakan sakit akan melahirkan,Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah.
Setelah seorang wanita melahirkan kandunganya,maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia di lahirkan dari kandungan ibunya.
Apabila seorang wanita meninggal dunia ketika melahirkan,
maka dia tidak akan membawa dosa sedikit pun dan akan di anggap sebagai mati syahid.
Di dalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman syurga.
Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala 1000 orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu Malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7). Ya, Fatimah, Tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang dan ikhlas,melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan Allah memberikan kepadanya pahala 100 kali beribadah haji dan umrah.
8). Ya Fatimah, Tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami,
melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih sayang (rahmat).
9). Ya, Fatimah, Tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para Malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya,dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10). Ya, Fatimah. Tiadalah seorang wanita yang membantu meminyaki kepala suaminya dan menyisir rambutnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman dari air syurga yang di kemas indah yang di datangkan dari sungai-sungai Syurga.Dan Allah mempermudah sakaratul maut baginya,
bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi siratal-mustaqin dengan selamat.
Semoga apa yang telah saya uraikan di atas dapat berguna dan bermanfaat bagi kawan-kawan sekalian, mohon maaf dan silahakan di koreksi apabila masih terdapat kalimat atau kata-kata yang kurang tepat. Wassalam. :)
Manfaat Gerakan Shalat
Shalat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti,
tetapi gerakan-gerakan shalat paling proporsional bagi anatomi tubuh
manusia. Bahkan dari sudut medis, shalat adalah gudang obat dari
berbagai jenis pnyakit
.
Allah, Sang Maha Pencipta, tahu persis apa yang sangat dibutuhkan oleh ciptaanNya, khususnya manusia. Semua perintahNya tidak hanya bernilai ketakwaan, tetapi juga mempunyai manfaat besar bagi tubuh manusia itu sendiri. Misalnya, puasa, perintah Allah di rukun Islam ketiga ini sangat diakui manfaatnya oleh para medis dan ilmuwan dunia barat. Mereka pun serta merta ikut berpuasa untuk kesehatan diri dan pasien mereka.
Begitu pula dengan shalat. Ibadah shalat merupakan ibadah yang paling tepat untuk metabolisme dan tekstur tubuh manusia. Gerakan-gerakan di dalam shalat pun mempunyai manfaat masing-masing. Misalnya:
Takbiratul Ihram
Berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar tlinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Gerakan ini bermanfaat untuk melancarkan aliran darah, getah bening (limfe), dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancer ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancer. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.
Ruku’
Ruku’ yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Gerakan ini bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi serta fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi untuk merelaksasikan otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah sarana latihan bagi kemih sehingga gangguan prostate dapat dicegah.
I’tidal
Bangun dari ruku’, tubuh kembali tegak setelah mengangkat kedua tangan setinggi telinga. I’tidal merupakan variasi dari postur setelah ruku’ dan sebelum sujud. Gerakan ini bermanfaat sebagai latihan yang baik bagi organ-organ pencernaan. Pada saat I’tidal dilakukan, organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Tentu memberi efek melancarkan pencernaan.
Sujud
Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Posisi sujud berguna untuk memompa getah bening ke bagian leher dan ketiak. Posis jantung di atas otak menyebabkan daerah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya lakukan sujud dengan tuma’ninah, tidak tergesa-gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Posisi seperti ini menghindarkan seseorang dari gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik ruku’ maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.
Duduk di antara sujud
Duduk setelah sujud terdiri dari dua macam yaitu iftirosy (tahiyat awal) dan tawarru’ (tahiyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. pada saat iftirosy, tubuh bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan saraf nervus Ischiadius. Posisi ini mampu menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarru’ sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (uretra), kelenjar kelamin pria (prostate) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, posisi seperti ini mampu mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarru’ menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.
Salam
Gerakan memutar kepala ke kanan dank e kiri secara maksimal. Salam bermanfaat untuk bermanfaat untuk merelaksasikan otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala sehingga mencegah sakit kepala serta menjaga kekencangan kulit wajah.
Gerakan sujud tergolong unik. Sujud memiliki falsafah bahwa manusia meneundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang di dalami Prof. Soleh, gerakan ini mengantarkan manusia pada derajat setinggi-tingginya.Mengapa?
Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan kontinu dapat memicu peningkatan kecerdasan seseorang.
Setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Darah tidk akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika seseorang sujud dalam shalat. Urat saraf tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini berarti, darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikuti waktu shalat, sebagaimana yang telah diwajibkan dalam Islam.
Riset di atas telah mendapat pengakuan dari Harvard University, Amerika Serikat. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan diri masuk Islam setelah diamdiam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud. Di samping itu, gerakan-gerakan dalam shalat sekilas mirip gerakan yoga ataupun peregangan (stretching). Intinya, berguna untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan shalat dibandingkan gerakan lainnya adalah di dalam shalat kita lebih banyak menggerakkan anggota tubuh, termasuk jari-jari kaki dan tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.
Masih dalam posisi sujud, manfaat lain yang bisa dinikmati kaum hawa adalah otot-otot perut (rectus abdominis dan obliqus abdominis externus) berkontraksi penuh saat pinggul serta pinggang terangkat melampaui kepala dan dada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lebih lama yang membantu dalam proses persalinan. Karena di dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami, otot ini justru menjadi elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan dan mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).
Setelah melakukan sujud, kita melakukan gerakan duduk. Dalam shalat terdapat dua jenis duduk: iftirosy (tahiyat awal) dan tawaru’ (tahiyat akhir). Hal terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, di daerah ini terdapat tiga liang yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih. Saat tawarru’, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.
Pada dasarnya, seluruh gerakan shalat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung dengan lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.
Menuru penelitian Prof. Dr. Muhammad Soleh dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Neuroimunologi” dengan desertasi itu, Soleh berhasil meraih gelar doctor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana Universitas Surabaya yang dipertahankannya beberapa waktu lalu.
Shalat tahajud ternyata bukan hanya sekedar shalat tambahan (sunah muakkad), tetapi jika dilakukan secara rutin dan ikhlas akan bisa mengatasi penyakit kanker. Secara medis, shalat tahajud mampu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imunologi) khususnya pada imunoglobin M, G, A, dan limfositnya yang berupa persepsi serta motivasi positif. Selain itu, juga dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi.
.
Allah, Sang Maha Pencipta, tahu persis apa yang sangat dibutuhkan oleh ciptaanNya, khususnya manusia. Semua perintahNya tidak hanya bernilai ketakwaan, tetapi juga mempunyai manfaat besar bagi tubuh manusia itu sendiri. Misalnya, puasa, perintah Allah di rukun Islam ketiga ini sangat diakui manfaatnya oleh para medis dan ilmuwan dunia barat. Mereka pun serta merta ikut berpuasa untuk kesehatan diri dan pasien mereka.
Begitu pula dengan shalat. Ibadah shalat merupakan ibadah yang paling tepat untuk metabolisme dan tekstur tubuh manusia. Gerakan-gerakan di dalam shalat pun mempunyai manfaat masing-masing. Misalnya:
Takbiratul Ihram
Berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar tlinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Gerakan ini bermanfaat untuk melancarkan aliran darah, getah bening (limfe), dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancer ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancer. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.
Ruku’
Ruku’ yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Gerakan ini bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi serta fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi untuk merelaksasikan otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah sarana latihan bagi kemih sehingga gangguan prostate dapat dicegah.
I’tidal
Bangun dari ruku’, tubuh kembali tegak setelah mengangkat kedua tangan setinggi telinga. I’tidal merupakan variasi dari postur setelah ruku’ dan sebelum sujud. Gerakan ini bermanfaat sebagai latihan yang baik bagi organ-organ pencernaan. Pada saat I’tidal dilakukan, organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Tentu memberi efek melancarkan pencernaan.
Sujud
Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Posisi sujud berguna untuk memompa getah bening ke bagian leher dan ketiak. Posis jantung di atas otak menyebabkan daerah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya lakukan sujud dengan tuma’ninah, tidak tergesa-gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Posisi seperti ini menghindarkan seseorang dari gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik ruku’ maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.
Duduk di antara sujud
Duduk setelah sujud terdiri dari dua macam yaitu iftirosy (tahiyat awal) dan tawarru’ (tahiyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. pada saat iftirosy, tubuh bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan saraf nervus Ischiadius. Posisi ini mampu menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarru’ sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (uretra), kelenjar kelamin pria (prostate) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, posisi seperti ini mampu mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarru’ menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.
Salam
Gerakan memutar kepala ke kanan dank e kiri secara maksimal. Salam bermanfaat untuk bermanfaat untuk merelaksasikan otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala sehingga mencegah sakit kepala serta menjaga kekencangan kulit wajah.
Gerakan sujud tergolong unik. Sujud memiliki falsafah bahwa manusia meneundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang di dalami Prof. Soleh, gerakan ini mengantarkan manusia pada derajat setinggi-tingginya.Mengapa?
Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan kontinu dapat memicu peningkatan kecerdasan seseorang.
Setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Darah tidk akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika seseorang sujud dalam shalat. Urat saraf tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini berarti, darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikuti waktu shalat, sebagaimana yang telah diwajibkan dalam Islam.
Riset di atas telah mendapat pengakuan dari Harvard University, Amerika Serikat. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan diri masuk Islam setelah diamdiam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud. Di samping itu, gerakan-gerakan dalam shalat sekilas mirip gerakan yoga ataupun peregangan (stretching). Intinya, berguna untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan shalat dibandingkan gerakan lainnya adalah di dalam shalat kita lebih banyak menggerakkan anggota tubuh, termasuk jari-jari kaki dan tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.
Masih dalam posisi sujud, manfaat lain yang bisa dinikmati kaum hawa adalah otot-otot perut (rectus abdominis dan obliqus abdominis externus) berkontraksi penuh saat pinggul serta pinggang terangkat melampaui kepala dan dada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lebih lama yang membantu dalam proses persalinan. Karena di dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami, otot ini justru menjadi elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan dan mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).
Setelah melakukan sujud, kita melakukan gerakan duduk. Dalam shalat terdapat dua jenis duduk: iftirosy (tahiyat awal) dan tawaru’ (tahiyat akhir). Hal terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, di daerah ini terdapat tiga liang yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih. Saat tawarru’, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.
Pada dasarnya, seluruh gerakan shalat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung dengan lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.
Menuru penelitian Prof. Dr. Muhammad Soleh dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Neuroimunologi” dengan desertasi itu, Soleh berhasil meraih gelar doctor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana Universitas Surabaya yang dipertahankannya beberapa waktu lalu.
Shalat tahajud ternyata bukan hanya sekedar shalat tambahan (sunah muakkad), tetapi jika dilakukan secara rutin dan ikhlas akan bisa mengatasi penyakit kanker. Secara medis, shalat tahajud mampu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imunologi) khususnya pada imunoglobin M, G, A, dan limfositnya yang berupa persepsi serta motivasi positif. Selain itu, juga dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi.
Kekuatan Do'a
Kekuatan Do’a
Sebenarnya,
kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan Allah ada pada setiap karakter
manusia, merupakan syarat penciptaan. Akan tetapi, di lain hal berdo’a
merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan bagi orang beriman,
namun untuk beberapa orang hal itu merupakan bentuk tindakan penyembahan
yang hanya perlu diingat di waktu mereka berhadapan dengan kesulitan
atau situasi yang membahayakan kehidupan mereka. Hal ini merupakan
kesalahan besar karena yang paling baik adalah memohon kepada Allah Yang
Maha Besar pada kedua kondisi tersebut, baik dalam kesulitan dan
kemudahan untuk memohon ampunan-Nya.
Bersungguh-sungguh dalam Berdo’a.
Allah
telah mempermudah hambanya untuk menemukan apapun yang ia lihat sebagai
hal yang baik dan indah. Akan tetapi, fokus dalam berdo’a yang
dilakukannya adalah sepenting do’a itu sendiri. Berdo’a dengan kesabaran
seperti suatu kebutuhan dan harapan untuk berdoa, ketidaknyamanan akan
hal tersebut dan yang paling penting dalam berdoa; bahwa kedekatan
kepada Allah semakin meningkat. Semakin bersungguh-sungguh dalam berdoa
membuat hamba yang berdo’a tersebut memiliki karakter dan keinginan yang
semakin kuat. Orang beriman yang menunjukkan kesungguhan dalam berdoa
mendapatkan banyak keuntungan seperti keyakinan yang semakin dalam, ini
jauh lebih bernilai dibandingkan dengan apa yang ia inginkan/ minta. Hal
ini tertulis dalam Al-Qur’an bahwa diperlukan kesungguhan dalam do’a
seperti:
“
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang –orang yang khusyu “ (Surat Al-Baqarah:45).
Rasulullah
(SAW) telah menyatakan betapa Ia membutuhkan Allah terkadang dengan
terus berdo’a bertahun-tahun dan Tuhan kita, Allah Yang Maha Pengasih,
telah memberikan apa yang ia inginkan pada di saat yang terbaik. Fakta
bahwa Allah menerima semua do’a, baik itu yang terang-terangan maupun
yang tersembunyi, merupakan bentuk ke-agungan-Nya dan Kerahiman-Nya.
Allah tidak pernah meninggalkan sebersit apapun pemikiran yang terlintas
di kepala hamba-Nya tanpa kembali lagi kepadanya, Akan tetapi “
menerima do’a” tidak berarti sesuatu terjadi seperti yang diminta karena
terkadang seseorang mungkin saja meminta sesuatu yang membahayakan
dirinya sendiri. Allah SWT mengungkapkan hal tersebut sebagai berikut:
“Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”
(Surat Al-Isra:11).
(Surat Al-Isra:11).
Allah
mengetahui yang terbaik dan apa yang terburuk untuk orang tersebut
karena Ia lah yang memiliki segalanya. Atas segala ciptaan-Nya, ada
banyak sekali hal-hal yang tersembunyi dalam cara Ia menerima do’a.
Sebagai contoh, Nabi Yakub (as) bergabung kembali dengan anaknya nabi
Yusuf (as) setelah menunggu dalam waktu tahunan yang panjang, Nabi Yusuf
mendapatkan kekuatan dan kekuasaan setelah dipenjara selama beberapa
waktu. Nabi Ayub (as), diselamatkan dari syetan, semua ini terjadi
setelah mendapat kesabaran dan do’a yang berkelanjutan. Allah Yang Maha
Besar, telah menerima do’a dari kepatuhan yang tulus dari waktu
terbaik-Nya. Allah SWT, telah menerima do’a hamba yang tulus untuk
waktu terbaiknya, dan telah membuat mereka matang, mendidik,
meningkatkan kesetiaan dan ketulusan dan mengubah mereka menjadi hamba
yang bernilai dan memiliki derajat yang tinggi di surga.
Bagaimana Allah menerima do’a
Ketika
orang beriman berdoa, ia tahu bahwa Allah mendengarnya dan akan
selalu menerima do’anya kapan pun. Ini karena ia menyadari bahwa sesuatu
tidak terjadi secara kebetulan, tapi berdasarkan atas ketentuan yang
ditentukan oleh Allah dan sebagaimana yang diinginkan-Nya. Untuk itu, ia
tak memiliki keraguan bahwa ia tidak akan mendapatkan kembali do’anya.
Berdo’a dengan jiwa yang tulus menghasilkan kebaikan. Dalam satu ayat,
hal itu diperlihatkan bahwa Tuhan kami akan selalu menerima do’a sebagai
manifestasi dari nama “Al-Mujib” (Ia yang menerima permintaan dari
mereka yang meminta pada-Nya).
“
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku. Maka
(jawablah) bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yangberdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran..” (Surat al-Baqarah, 186).
Alasan
bahwa sesuatu yang diminta dalam do’a ditunda, atau diterima dengan
cara yang berbeda, dapat juga merupakan ujian Tuhan kepada hamba-Nya.
Allah memberikan berkah-Nya setelah beberapa periode untuk kemudian
diuji kesabaran hamba-Nya dan untuk membuat mereka matang dengan alasan
tertentu.
Berdasarkan
alasan serupa, ia tak dapat diduga bahwa setiap do’a terwujud seperti
saat ia diminta dan sesegera mungkin. Seperti apa yang diutarakan oleh
cendikiawan Islam Bediuzzaman, Allah mungkin memberikan sedikit dari
sesuatu yang diminta dalam do’a atau sesuatu yang lebih dari yang
dihadiahkan karena alasan tersebut yang disebut di atas. Ia mungkin
tidak mengabulkannya sama sekali. Akan tetapi, pada setiap kondisi,
Allah menerima do’a dari mereka yang berdo’a kepada-Nya.
Berdo’a
merupakan bentuk kepatuhan kepada Allah dan semua orang membutuhkan
do’a. Hal yang merupakan contoh paling rasional dalam hal ini adalah
bahwa semua Nabi yang berdo’a kepada Allah dengan menyerahkan diri
kepada-Nya dalam segala hal yang terdapat di Al-Qur;an. Dalam do’a nabi
Muhammda SAW, dan para nabi-nabi, kita melihat penyerahan diri mereka
kepada Allah, fakta bahwa mereka melihat Allah, dan sebagai teman sejati
mereka serta pihak yang membantu mereka dan bahwa mereka dan berdo’a
memuja Tuhan kita dengan nama-Nya yang indah.
Do’a dari Nabi Muhammad (SAW)
Dalam
do’a dari Nabi Muhammad SAW, hal yang terindah dari mengutip Allah
dengan nama-Nya disebutkan. Salah satu do’a dari nabi kita (SAW)
disebutkan sebagai berikut:
Katakanlah
“ Wahai Tuhan Yang Maha mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan
kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang
yang Engkau kehendaki. Egkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan
Engkau hinakan otang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala
kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Surah Al ‘Imran, 26).
Dalam narasinya, terlihat bahwa nabi Muhammd (SAW) berdo’a kepada Tuhan untuk diberikan moral yang baik dan perilaku yang baik.
O
Allah! perteballah kebaikan dan etika! Wahai Yang Maha Agung!
Pindahkanlah moral yang buruk (Tirmidhi, Imam Ahmad dan Haqim; Hujjat
al-Islam Imam Gadhali, Ihyau Ulum id-din, volume 2, Terjemahan : Dr.
Sitki Gulle, Huzur Publishing, Istanbul 1998, p.789)
Do’a dari nabi Nuh (as),
Kesabaran
dari nabi Nuh (as) yang menyerukan umatnya kepada agama yang baik
selama beberapa tahun dengan kesungguhan, dipuji dalam Al-Qur’an. Nabi
Nuh (as) berjuang melawan umatnya yang bertindak dengan memusuhinya dan
orang-orang beriman yang bersamanya. Faktanya adalah nabi Nuh kembali
kepada Allah WT dalam berbagai situasi, dan berdo’a dengan mengharapkan
bantuan-Nya secara tulus merupakan contoh yang baik bagi orang beriman.
Dalam satu ayat, terlihat bahwa Allah mengetahui kondisi dari Nabi nuh
(as), bahwa ia berdo’a sebagai berikut:
“Maka ia Mengadu kepada Tuhannya: “bahwasannya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku)”
(Q.S Al-Qamar : 10).
(Q.S Al-Qamar : 10).
Allah
menerima do’a nabi Nuh (as) dan memerintahkannya agar bersiap-siap
menghadapi banjir, yang akan terjadi di masa depan. Nabi Nuh (as) mulai
membangun kapal yang sangat besar atas perintah Allah, meskipun tidak
ada laut ataupun danau di sekitarnya. Dalam masa pembangunan kapal
tersebut, ia secara terus-menerus menjadi pihak yang dicemooh oleh
umatnya. Pada saat tiba waktunya, janji Allah SWT terwujud dan banjir
tersebut terjadi.
Do’a dari nabi Yunus (as):
Dalam
Al-Qur’an, disebutkan bahwa Nabi yang mulia ini memisahkan diri dari
umatnya, karena mereka tak merespon seruannya (Surat As-Safaat:
139-142). Seperti yang tertulis pada ayat berikut ini, terdapat gambar
di kapal tersebut di mana nabi Yunus (as) berkelana dan akibat dari
gambar tersebut nabi Yunus (as) dilemparkan ke laut. Puncak dari
kejadian tersebut, nabi Yunus (as) berserah diri kepada Allah dan
berdo’a kepada-Nya. Allah mencatat peristiwa ini dalam Al-Qur’an :
Dan
ingatlah kisah Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah,
lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya
(menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap:
“Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak di sembah ) selain Engkau. Maha Suci
Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”. Maka
Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya dari pada
kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. ”(Surat al-Anbiya’,ayat: 87–88).
Seperti
yang tertulis pada ayat Nabi Yunus (as) bersaksi/ mengaku kondisinya
secara tulus dalam do’anya. Ia berdo’a kepada Allah dan menantikan
bantuan-Nya. Tuhan kita, yang Maha Pengampun, menerima penebusan dan
menyelamatkannya dari perut ikan dengan menerima do’anya.
Do’a Nabi Yakub (as)
Dalam
Al-Qur’an, kesabaran nabi Yakub (as) disebutkan sebagai salah satu
contoh bagi orang beriman. Nabi Yakub (as) yang menerima wahu dari Allah
dan merupakan hamba terpilih (Q.S An-Nisa :163), merasakan permasalahan
yang serius dan melewati masa sulit. Akan tetapi, meskipun segala
penderitaan yang dialaminya, Ia selalu menjadikan hal tersebut sebagai
contoh bagi orang beriman dengan kesabaran dan penyerahan diri kepada
Allah (Q.S Sad, 44). Do’a yang tulus dari nabi suci kita tersebut
dinyatakan dalam salah satu ayatnya sebagai berikut:
dan
(ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru kepada Tuhannya: (Ya Tuhanku),
sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang
Maha Penyayang di antara semua penyayang ”(Surat al-Anbiya’, 83)
Hal
ini tercatat dalam Al-Qur’an bahwa Allah Yang Maha Besar menerima semua
do’a dari Nabi Yakub (as) sebagai salah satu hambanya yang tulus”
Maka
Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang
ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat
gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan utuk
menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Surat al-Anbiya’, 84)
Do’a,
merupakan alat terpenting dalam mencapai ke agungan Allah, Yang Maha
Mengetahui dan Maha Mendengar, yang lebih dekat dari urat nadi manusia (
Surah Qaf, ayat 16), merupakan bentuk penghambaan bagi orang beriman di
segala kondisi dan kesempatan. Akan tetapi, setiap orang beriman
melakukan ini, seperti yang ditulis dalam ayat : Dan kamu tidak mampu kecuali bila dikehendaki Allah…”(Surat
al-Insan, 30). Mereka berperilaku dalam kesadaran bahwa faktanya segala
sesuatu selalu di bawah kontrol Tuhan kita dan semuanya terwujud karena
kehendak-Nya.
Akan selalu ada jawaban dari do’a yang tulus di dunia dan di akhrat.
Do’a membimbing seseorang atas apa yang akan terjadi dalam nasibnya” Allah
adalah satu-satunya yang menentukan nasib dan menciptakan do’a. Akan
tetapi berkah yang datang dari do’a mengandung kemakmuran di dunia ini
dan sekembalinya ke akhirat. Seluruh kehidupan sesorang merupakan hasil
dari do’a yang diucapkan dari do’a yang sebelumnya diminta, apakah ia
merasa sadar atau tidak. Do’a aktif berupa tindakan dan usaha yang
diajukan dari doa dan kehendak Allah. Ketika usaha tersebut ridha Allah
hal tersebut masih menjadi cara bagi tiap pribadi untuk meraih
harapannya, sesuai dengan ridha Allah.
Manusia
yang tidak beriman namun membawa do’a aktif mereka dengan ambisi yang
besar, sebagai contoh, mereka yang bekerja dan mendapatkan banyak
keuntungan, menjadi kaya atau menjadi pakar tentang sesuatu hal dan
menjadi terkenal, telah mencapai derajat tersebut melalui perjuangan
aktif mereka dengan berpedoman pada akibat, dan lagi lagi kehendak
Allah. Akan tetapi, do’a yang aktif yang tidak digunakan untuk ridha
Allah tak akan memberikan keuntungan terhadap orang tersebut di akhirat
meskipun orang tersebut mencapai tujuan tujuannya dari waktu ke waktu
di dunia ini.
Dengan ayat yang tertulis dalam Al-Qur’an:
”Hai Nabi! cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang orang mu’min yang mengikutimu, (Q.S Al-Anfaal, 64)
Allah
merupakan yang paling sempurna, Pemilik kekal Kekuasaan. Semua kekuatan
di dunia ini ada di tangan_nya. Jadi permohonan bantuan dan permohonan
maaf harusnya ditujukan hanya kepada Allah, di mana semua orang butuh
dan Allah tidak memerlukan sesuatu pun. Dalam Al-Qur’an disebutkan
bahwasannya salah apabila berdo’a selain kepada Allah dan Allah
merupakan satu-satunya pemilik do’a :
Maka
jangalah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah,
yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang di’azab (Surat ash-Syu‘araa’, 213)
Kesimpulan
Do’a
merupakan contoh dari kemurahan Allah dan kasih sayang-Nya terhadap
hamba-Nya, Orang-orang beriman dapat berdo’a kepada Allah setiap saat
dan di setiap kondisi apapun dan mereka merasa damai karena Allah akan
menerima do’a-do’a mereka di saat yang tepat. Dalam hal ini, mereka
dapat menceritakan rahasia terpendam mereka dan keinginan terdalam
mereka kepada Allah, dan hidup dalam kebaikan, kesejahteraan dan
keindahan yang datang dari pemahaman bahwa Allah-lah satu-satunya teman,
petunjuk dan yang akan membantu mereka.
Kita
dapat melihat bahwa rahasia terbesar dalam Allah mewujudkan do’a dalam
kehidupan para Nabi seperti yang telah dikisahkan dalam beberapa contoh.
Terdapat hubungan dalam berdo’a dan menjalankan perintah Allah. Usaha
nyata yang ditunjukkan untuk ridha Allah, belas kasihan dan surga-Nya
merupakan bentuk pengambaan sepenting seperti berdo’a. Allah
menunjukkan dalam Al-Qur’an mengenai pentingnya usaha tersebut:
“Dan
barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah
itu dengan sungguh-sungguh sedang dia adalah mu’min, maka mereka adalah
orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik” (Surat al-Isra’, 19)
Ulama Imam Rabbani menjelaskan hal ini sebagai berikut :
Menginginkan
sesuatu berarti mencapai hal tersebut, Memang, Allah yang Maha Kuasa
tidak membuat hambanya berdo’a untuk sesuatu yang tidak diterima-Nya.
Hambanya yang beriman tahu bahwa usahanya juga merupakan sebuah do’a
tidak hanya berdoa pada saat kesulitan tetapi pada setiap saat oleh
perasaan keberadaan dan ke-Agungan Allah. Mereka memelihara kedekatan
hubungan dengan Allah Yang Maha Kuasa di setiap saat hidup mereka. (Di kutip dr Artikel Harun Yahya)
Langganan:
Postingan (Atom)

