- Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu niscaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah
- Barang siapa Semakin mengenal kepada Allah niscaya akan semakin takut.
- Barang siapa yang tidak mau duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barang siapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.
- Barang siapa menjadikan kematiaannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.
- Barang siapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi padanya. Dan barang siapa percaya pada risalah, maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.
- Kedekatan seseorang dengan para nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.
- Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya.
- Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.
- Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya.
- Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan.
- Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.
- Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian), lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya seribu kali.
- Menyatunya seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan untuk fana pada Allah (lupa selain Allah)
- Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan, golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran.
- Barang siapa yang menuntut keluhuran, maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.
- Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.
- Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang wajib bagi kita yaitu harus menjadi da’i dan tidak harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.
- Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan Allah menjaga kekasih-kekasih-Nya.
- Apabila ibadah agung bagi seseorang maka ringanlah adat (kebiasaan) baginya dan apabila semakin agung nilai ibadah dalam hati seseorang maka akan keluarlah keagungan adat darinya.
- Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang tinggi.
- Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq.
- Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah dan tanda dari lemahnya iman.
- Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an dengan merenungi artinya dan bangun malam.
- Tidak akan naik pada derajat yang tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).
- Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari murka Allah.
- Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.
- Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu.
- Semoga bermanfaat...!
Rabu, 12 Februari 2014
NASEHAT DAN WASIAT HABIB UMAR BIN SALAIM BIN HAFIDZ
Rabu, 05 Februari 2014
MAKNA ISLAM SECARA KAFFAH
Apa makna
“Memahami dan Mengamalkan Islam secara Kaffah”?, Kepada siapa diberlakukan
“Memahami dan Mengamalkan Islam secara Kaffah”?, Apa dampak positif dalam
upaya“Memahami dan Mengamalkan Islam secara Kaffah”; dan apa dampak negatif
dari sikap mengabaikan dan tidak mau “Memahami dan Mengamalkan Islam secara
Kaffah”?
Islam kaffah maknanya adalah : Islam secara menyeluruh, yang Allah ‘Azza wa Jalla perintahkan dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 208. Perintah kepada kaum mu`minin seluruhnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
[البقرة/208]
Islam kaffah maknanya adalah : Islam secara menyeluruh, yang Allah ‘Azza wa Jalla perintahkan dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 208. Perintah kepada kaum mu`minin seluruhnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
[البقرة/208]
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [Al-Baqarah : 208].
Memeluk dan mengamalkan Islam secara kaffah adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus dilaksanakan oleh setiap mukmin, siapapun dia, di manapun dia, apapun profesinya, di mana pun dia tinggal, di zaman kapan pun dia hidup, baik dalam sekup besar ataupun kecil, baik pribadi atau pun masyarakat, semua masuk dalam perintah ini : “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh) Pada ayat yang sama, kita dilarang mengikuti jejak langkah syaithan, karena sikap mengikuti jejak-jejak syaithan bertolak belakang dengan Islam yang kaffah.
Sementara pada ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan tentang kebiasaan kaum Yahudi (Ahlul Kitab). Yaitu ketika Allah turunkan kepada mereka Kitab-Nya, Allah mengutus kepada mereka Rasul-Nya, mereka tidak mau mengimani,menjalankan, dan mengamalkan syari’at yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan secara kaffah. Ini adalah akhlak Yahudi. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan tentang mereka:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللهُبِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (85) [البقرة/85]
“ Apakah kalian ini mau beriman kepada sebagian Al Kitab(Taurot) sementara kalian tidak mau beriman, tidak mau mengamalkan dengan syari’at yang lainnya,tidaklah balasan bagi orang-orang yang berbuat seperti ini diantara kalian,kecuali kehinaan di dunia. Dan pada Hari Kiamat nanti mereka akan dikembalikan ke sekeras-keras adzab. Tidaklah Allah sekali-kali lalai dari apa yang kalian lakukan. ” (Al-Baqarah : 85).
Ayat yang kedua ini sebagai peringatan : Bahwa kita dilarang meniru akhlak dan cara kaum Yahudi dalam beragama. Yaitu mereka mau menerima syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Allah turunkan dalam kitab Taurat atau disampaikan Rasul-Nya pada waktu itu jika syari’at tersebut tidak bertentangan dengan hawa nafsu mereka. Namun jika syari’at tersebut menurut pandangan mereka jika diterapkan dapat menghalangi kepentingan duniawi, kepentingan hawa nafsu dan syahwat mereka, atau tidak bisa diterima oleh akal logika mereka yang sempit, maka mereka tidak mau beriman dan mengamalkan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut. Barangsiapa yang berbuat seperti itu, maka sungguh balasannya adalah kehinaan didunia dan adzab di akhirat nanti lebih keras lagi. AllahSubhanahu wa Ta’ala tidak akan lalai terhadap apa yang kita lakukan ini.
Dua ayat dalam surah Al-Baqarah,yang pertama pada ayat ke 208, dan kedua pada ayat ke-185 merupakan dasar pembahasan kita pada topik ini.
Islam kaffah maknanya adalah Islam secara menyeluruh, dengan seluruh aspeknya, seluruh sisinya, yang terkait urusan iman, atau terkait dangan dengan akhlak, atau terkait dengan ibadah, atau terkait dangan mu’amalah, atau terkait dangan urusan pribadi, rumah tangga, masyarakat, negara, dan yang lainnya yang sudah diatur dalam Islam. Ini makna Islam yang kaffah.
Apakah sudah pernah ada penerapan Islam secara kaffah? Apakah pernah agama Islam ini, sejak awal diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hari ini, pernahkah diterapkan secara kaffah ataukah belum? Islam sudah pernah diterapkan secara kaffah. Islam secara kaffah sudah pernah dipahami dan diamalkan oleh generasi terbaik umat ini, yaitu generasi para shahabat Nabi ridwanallahi ‘alahi jami’an baik secara zhahir maupun secara bathin.
- Secara zhahir : tampak dalam berbagai amalan mereka, baik dalam urusan ibadah, akhlak, maupun muamalah.
- Secara bathin : yakni dalam keikhlasan, kebenaran dan kejujuran iman, dan takwa. Semua itu telah diterapkan para shahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihiwa Sallam di bawah bimbingan langsung Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam secara berkesinambungan dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Ayat demi ayat turun, surat demi surat turun untuk mereka dengan disampaikan dan diajarkan langsung oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam kepada mereka. Ketika turun ayat tentang ibadah, maka Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam langsung mempraktekkan ayat tersebut, yakni mempraktekkan bagaimana cara beribadah yang dimaukan dalam ayat tersebut. Ketika turun ayat tentang iman, maka Rasulullah Shallahu ‘alaihi waSallam pun merinci makna yang terkait dengan iman tersebut. Semua itu beliau lakukan dalam hadist- hadistnya, dalam keseharian bersama para sahabat. Selama kurang lebih 23 tahun Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam mendidik mereka di atas iman yang kaffah, Islam yangkaffah, ibadah yang kaffah, sampai akhirnya turunlah ayat:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا [المائدة/3]
“ Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian ” [Al-Ma'idah : 3] Ayat ini turun menjelang wafatnya Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam. Pada tanggal 9 Dzulhijjah ketika hajjatul wada’ (haji penghabisan/perpisahan) Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam. Ayat ini turun di padang ‘Arafah, yang kemudian para sahabat memahami bahwa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam akan berpisah dengan turunnya ayat ini. Mereka bersedih bahwa wahyu sudah akan segera berakhir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agama kalian dan telah Aku sempurnakan pula bagi kalian nikmat-Ku”, yakni nikmat Islam … sempurna pada hari itu “dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” Islam yang mana yang Allah ridhai?
Islam dengan syari’at yang mana yang
telah Allah ridhai?
Jawabannya adalah : Islam ketika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam masih hidup menyampaikan ayat demi ayat kepada para shahabatnya, difahamkan oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam kepada mereka, kemudian difahami oleh para shahabat dan diamalkan oleh mereka, demikian terus sampai turun ayat Al-Maidah : 3 ini. Itulah Islam kaffah, islam yang diridhai oleh Allah ‘Azzawa Jalla. Itulah bentuk Islam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala rela sebagai agama. Itulah bentuk pamahaman Islam yang telah diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yakni bentuk iman, bentuk ibadah, bentuk mu’amalah, serta bentuk akhlak yang ada pada hari itu.
Bisa kita simpulkan, bahwa Islam kaffah, yang telah bersifat menyeluruh dari seluruh aspeknya, adalah Islam yang telah diterima oleh para shahabat secara langsung dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dan mereka amalkan di bawah pengawasan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, bahkan pangawasan ilahi langsung. Kalau ada sesuatu yang tidak benar atau salah, maka turun ayat mengingatkan tentang suatu peristiwa, atau turun ayat lagi merinci permasalahan tersebut. Pengawasan langsung dari langit yang ke tujuh, yakni pengawasan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menurunkan syari’at ini.
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik- baik generasi adalah generasi di mana Aku berada di sana.” Maksudnya sebaik-baik dalam hal apa? Dalam seluruh urusan agama, akhlaknya para shahabat terbaik,imannya juga yang terbaik. Ibadahnya, baik tingkat kualitas maupun tingkat kuantitas, para shahabat adalah yang terbaik. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa sallam tegas menyatakan, bahwa sebaik- baik generasi adalah generasi di mana Aku berada disitu.
Itulah sekelumit tentang pengertian Islam kaffah, dan dengan ini pula kita mengetahui pula jawaban yang dikemukakan tadi (apakah pernah Islam dipahami dan diterapkan secara kaffah?), maka jawabannya adalah pernah dan pasti pernah. Oleh karena itu, kita diperintahkan dalam syari’at ini, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam sunnah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, untuk senantiasa kembali kepada jejak mereka. Bagi yang ingin memahami Al-Qur’an, janganlah memahami Al-Qur`an dengan logika kita semata. Maka kembalikanlah pemahaman Al-Qur’an itu kepada generasi terbaik tersebut, yang lebik dari kita dari semua sisinya. Ketika orang hendak menerapkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa sallam, harus menengok bagaimana para shahabat menerapkannya.
Penerapan Islam secara kaffah adalah suatu kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada hamba-hamba-Nya kaum mu’minin. Ini merupakan keharuskan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh setiap individu mu’min, bahwa dia harus menerapkan Islam secara kaffah, siapapun dia, apapun profesinya. “Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing- masing kalian akan dimintai pertanggunjawaban atas apa yang dipimpinnya.” ). Seorang kepala rumah tangga juga berlaku atasnya perintah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 208 “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam islam secara kaffah (menyeluruh)… .” [Al-Baqarah ayat 208] juga “Wahai orang- orang yang beriman, bentengi diri kalian dan keluarga kalian dari adzab neraka.” [At-Tahrim : 6] Demikian juga seorang istri, ayat tersebut berlaku juga atasnya. “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam islam secara kaffah (menyeluruh)… .” [Al-Baqarah ayat 208] juga “Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing- masing kalian akan dimintai pertanggunjawaban atas apa yang dipimpinnya.” ) “… seorang wanita (istri) itu sebagai penanggungjawab atas rumah suaminya serta putra-putrinya dan sekaligus dia (istri) tersebut akan dimintai pertanggungjawaban.” Istri punya kewajiban terkait dengan suami. Syari’at telah menyebutkan, baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah, berbagai kewajiban tersebut, maka kaum wanita wajib mengetahuinya. Terkait urusan rumah tangga saja, masih banyak kaum wanita muslimah yang belum tahu dan mengerti tentang Islam dengan benar. Jangankan secara menyeluruh, terkait dengan kewajiban di rumah tangga saja, masih banyak perkara dia tidak mengerti. hal ini perlu diperbaiki.
Keterkaitan masalah islam kaffah dengan umat dan kehidupan bernegara
Umat Islam sekarang ini sedang mengalami berbagai krisis dengan berbagai bentuknya. Mengalami kemerosotan di berbagai bidang. Umat Islam mengalami kemerosotan dalam bidang ibadah,sehingga setiap hari semakin banyak orang yang dengan terang-terangan tidak mau shalat. Semakin hari akhlaq kaum muda-mudi muslimin dan muslimat semakin jauh dari bimbingan Islam,cenderung meniru dan mengekor kaum kuffar. Begitu pula keamanan negeri kita semakin hari semakin tidak menentu, semakin tidak jelas arahnya. Begitu juga masyarakat mengeluh terkait dengan perekonomian mereka. Terasa setiap hari semakin sempit rezki atau perekonomian ummat ini tidak barakah, semakin hari kita menyaksikan hal yang seperti ini. Dari sisi aqidah, kaum muslimin juga mengalami kemerosotan. Semakin bermunculan berbagai aqidah yang bertentangan dengan aqidah Islam yang haq. Ahmadiyah semakin berani, Syi’ahnya juga semakin terang-terangan menyebarkan kebatilannya. Komunis pun berani sekarang, dan buku-buku komunissudah ada di toko-toko buku. Paham liberalisme juga seperti itu,terus dijejelkan di tengah-tengah ummat ini kepada putra-putri muslimin.
Sungguh hanya Allah sajalah yang dapat memberikan jalan keluar bagi kita semuanya, bagi kaum muslimin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Jawabannya adalah : Islam ketika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam masih hidup menyampaikan ayat demi ayat kepada para shahabatnya, difahamkan oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam kepada mereka, kemudian difahami oleh para shahabat dan diamalkan oleh mereka, demikian terus sampai turun ayat Al-Maidah : 3 ini. Itulah Islam kaffah, islam yang diridhai oleh Allah ‘Azzawa Jalla. Itulah bentuk Islam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala rela sebagai agama. Itulah bentuk pamahaman Islam yang telah diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yakni bentuk iman, bentuk ibadah, bentuk mu’amalah, serta bentuk akhlak yang ada pada hari itu.
Bisa kita simpulkan, bahwa Islam kaffah, yang telah bersifat menyeluruh dari seluruh aspeknya, adalah Islam yang telah diterima oleh para shahabat secara langsung dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dan mereka amalkan di bawah pengawasan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, bahkan pangawasan ilahi langsung. Kalau ada sesuatu yang tidak benar atau salah, maka turun ayat mengingatkan tentang suatu peristiwa, atau turun ayat lagi merinci permasalahan tersebut. Pengawasan langsung dari langit yang ke tujuh, yakni pengawasan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menurunkan syari’at ini.
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik- baik generasi adalah generasi di mana Aku berada di sana.” Maksudnya sebaik-baik dalam hal apa? Dalam seluruh urusan agama, akhlaknya para shahabat terbaik,imannya juga yang terbaik. Ibadahnya, baik tingkat kualitas maupun tingkat kuantitas, para shahabat adalah yang terbaik. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa sallam tegas menyatakan, bahwa sebaik- baik generasi adalah generasi di mana Aku berada disitu.
Itulah sekelumit tentang pengertian Islam kaffah, dan dengan ini pula kita mengetahui pula jawaban yang dikemukakan tadi (apakah pernah Islam dipahami dan diterapkan secara kaffah?), maka jawabannya adalah pernah dan pasti pernah. Oleh karena itu, kita diperintahkan dalam syari’at ini, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam sunnah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, untuk senantiasa kembali kepada jejak mereka. Bagi yang ingin memahami Al-Qur’an, janganlah memahami Al-Qur`an dengan logika kita semata. Maka kembalikanlah pemahaman Al-Qur’an itu kepada generasi terbaik tersebut, yang lebik dari kita dari semua sisinya. Ketika orang hendak menerapkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa sallam, harus menengok bagaimana para shahabat menerapkannya.
Penerapan Islam secara kaffah adalah suatu kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada hamba-hamba-Nya kaum mu’minin. Ini merupakan keharuskan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh setiap individu mu’min, bahwa dia harus menerapkan Islam secara kaffah, siapapun dia, apapun profesinya. “Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing- masing kalian akan dimintai pertanggunjawaban atas apa yang dipimpinnya.” ). Seorang kepala rumah tangga juga berlaku atasnya perintah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 208 “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam islam secara kaffah (menyeluruh)… .” [Al-Baqarah ayat 208] juga “Wahai orang- orang yang beriman, bentengi diri kalian dan keluarga kalian dari adzab neraka.” [At-Tahrim : 6] Demikian juga seorang istri, ayat tersebut berlaku juga atasnya. “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam islam secara kaffah (menyeluruh)… .” [Al-Baqarah ayat 208] juga “Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing- masing kalian akan dimintai pertanggunjawaban atas apa yang dipimpinnya.” ) “… seorang wanita (istri) itu sebagai penanggungjawab atas rumah suaminya serta putra-putrinya dan sekaligus dia (istri) tersebut akan dimintai pertanggungjawaban.” Istri punya kewajiban terkait dengan suami. Syari’at telah menyebutkan, baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah, berbagai kewajiban tersebut, maka kaum wanita wajib mengetahuinya. Terkait urusan rumah tangga saja, masih banyak kaum wanita muslimah yang belum tahu dan mengerti tentang Islam dengan benar. Jangankan secara menyeluruh, terkait dengan kewajiban di rumah tangga saja, masih banyak perkara dia tidak mengerti. hal ini perlu diperbaiki.
Keterkaitan masalah islam kaffah dengan umat dan kehidupan bernegara
Umat Islam sekarang ini sedang mengalami berbagai krisis dengan berbagai bentuknya. Mengalami kemerosotan di berbagai bidang. Umat Islam mengalami kemerosotan dalam bidang ibadah,sehingga setiap hari semakin banyak orang yang dengan terang-terangan tidak mau shalat. Semakin hari akhlaq kaum muda-mudi muslimin dan muslimat semakin jauh dari bimbingan Islam,cenderung meniru dan mengekor kaum kuffar. Begitu pula keamanan negeri kita semakin hari semakin tidak menentu, semakin tidak jelas arahnya. Begitu juga masyarakat mengeluh terkait dengan perekonomian mereka. Terasa setiap hari semakin sempit rezki atau perekonomian ummat ini tidak barakah, semakin hari kita menyaksikan hal yang seperti ini. Dari sisi aqidah, kaum muslimin juga mengalami kemerosotan. Semakin bermunculan berbagai aqidah yang bertentangan dengan aqidah Islam yang haq. Ahmadiyah semakin berani, Syi’ahnya juga semakin terang-terangan menyebarkan kebatilannya. Komunis pun berani sekarang, dan buku-buku komunissudah ada di toko-toko buku. Paham liberalisme juga seperti itu,terus dijejelkan di tengah-tengah ummat ini kepada putra-putri muslimin.
Sungguh hanya Allah sajalah yang dapat memberikan jalan keluar bagi kita semuanya, bagi kaum muslimin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِخَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(55) [النور/55]
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan mengganti (keadaan) mereka, setelah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An-Nur : 55]
Sifat Allah adalah (Laa yukhliful mii ‘aad) : Allah tidak pernah menyelisihi janji-Nya. Allah sungguh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih, yaitu:
· Dia (Allah)
pasti akan memberikan kepada orang-orang beriman dan beramal shalih kekuasaan
di muka bumi, yakni Kekhilafahan di muka bumi.
· Dan Aku akan
kokohkan posisi dan kedudukan agama mereka, yakni Islam ini, yang telah Aku
ridhai untuk mereka sebagai agama.
· Dan pasti Aku akan menggantikan
perasaan takut, yakni kecemasan, ketidak tentraman yang menimpa mereka, dengan
kondisi yang aman, tentram, tidak saling mencurigai hidup dengan penuh
keharmonisan.
Perhatikan ayat ini dengan baik-baik.
Janji yang akan Allah berikan adalah kekuasaan di muka bumi ini untuk kaum mu’minin. Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-A’raf ayat ke-96:
Perhatikan ayat ini dengan baik-baik.
Janji yang akan Allah berikan adalah kekuasaan di muka bumi ini untuk kaum mu’minin. Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-A’raf ayat ke-96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا
وَاتَّقَوْالَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
[الأعراف/96]
“Kalau seandainya penduduk-penduduk negeri tersebut mau beriman dan bertaqwa
kepada Allah maka pasti Kami akan bukakan untuk mereka pintu-pintu barakah dari
langit dan bumi” (QS. Al-A'raf : 96). Apa syarat nya yang harus kita penuhi agar kita mendapati
pemenuhan janji Allah? Tidak lain adalah dengan ber-islam secara kaffah.
Jadi, yang dikehendaki Allah dalam surat 2;208 ini adalah: kembalinya kita dalam memahami dan menerapkan syariat islam seperti Rasulullah dan para sahabat beliau menerapkanya Dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikianlah yang dimaksudkan masuk islam secara keseluruhan/totalitas/kaffah.
Jadi, yang dikehendaki Allah dalam surat 2;208 ini adalah: kembalinya kita dalam memahami dan menerapkan syariat islam seperti Rasulullah dan para sahabat beliau menerapkanya Dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikianlah yang dimaksudkan masuk islam secara keseluruhan/totalitas/kaffah.
-- Wallahu a'lamu --
3 Pesan Rasulillah SAW
Di dalam hadis riwayat Baihaqy, Malaikat Jibril as., menyampaikan
pesan Allah SWT tentang beberapa kunci mensikapi hidup di dunia kepada
Rasulullah SAW agar diteruskan kepada seluruh ummat Rasulullah SAW
(termasuk kita sekalian):
Malaikat Jibril AS
mendatangiku seraya berkata: “Wahai Muhammad! “Hiduplah kamu (di dunia
ini) sehendakmu, tetapi ingat bahwa kamu akan mati; cintailah apa yang
kamu sukai, tetapi ingat bahwa kamu akan meninggalkannya, dan
berbuatlah sesukamu, tetapi ingat bahwa kamu akan mendapatkan balasan
dari apa yang telah kamu perbuat..”
Pesan pertama, (“’isy ma syi’ta fainnaka mayyitun);
“Hiduplah kamu sesukamu, tetpai ingat bahwa kamu akan mati”,
mengandung pesan kunci bahwa kematian merupakan kata kunci dan tolak
ukur kaum Muslim dalam mensikapi hidupnya. Kematian merupakan
rambu-rambu kita dalam memanfaatkan seluruh umur kita di kehidupan
dunia ini. Allah SWT menciptakan manusia lengkap dengan sarana hidup
yang dinamakan “keduniaan” ; sifat dunia adalah “mata al-ghurur” (kesenangan yang menipu).
Tipu dayanya cukup halus dan memukau, hingga sering manusia dibuatnya
terlena karenanya. Dalam perspektif ini, dunia bagaikan jaring
laba-laba yang setiap saat menjerat siapapun yang melewatinya.
Faktanya, berapa banyak manusia yang berhasil dijadikan tawanan oleh
dunia; asyik-maksyuk di dalamnya hingga mengabaikan tugasnya menghamba
kepada Allah SWT.
Di dalam banyak tempat (ayat) Al-Qur’an
meningatkan kita agar “berlomba-lomba” mengerjakan amal shalih, dengan
tujuan utama mengingatkan kita agar hidup kita tidak sia-sia:
Di dalam QS. al-Baqarah: 148 Allah berfirman:
“Maka
berlomba-lombalah kalian dalam mengerjakan amal shalih. Di tempat
manapun kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkanmu (di hari kiamat)”
Orang
mukmin akan menyambut firman Allah tersebut dengan bersegera, karena
mereka sadar bahwa akan kembali menghadap Allah SWT. Ciri utama seorang
mukmin adalah; senantiasa semangat dan rajin mengerjakan amal shalih,
dan bersamaan dengan itu para mukmin itu juga senantiasa khawatir,
cemas jikalau amal shalih yang telah dilakukannya ternyata tidak
diterima disisi Allah SWT., Karena itu, di dalam harap dan cemas itu,
para mukmin senantiasa berusaha untuk bisa mengerjakan amal shalih
sebanyak-banyaknya.
Allah menyampaikan ciri mukmin ini di dalam QS. Al-Mukmin: 61:
“Dan
orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati
yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali
pada Tuhan mereka; mereka itu bersegera untuk mendapat
kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”.
Meneruskan ayat-ayat Allah tersebut,
Rasulullah SAW mengingatkan kita agar bersegera mengerjakan amal
shalih, sebelum terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, karena di
jaman akhir (yang insyaAllah kita alami ini) orang akan dikepung oleh
berbagai rintangan agar semakin jauh dari tuntunan Ilahi.
Rasulillah SAW mengingatkan kita sebagai berikut:
“Bersegeralah
kalian mengerjakan amal shalih, sebab akan datang fitnah-fitnah
(besar) bagaikan gelap-gulitanya malam, dimana akan terjadi seseorang
yang pada pagi harinya masih menjadi mukmin, sore harinya sudah menjadi
kafir; dan sore harinya seseorang masih menjadi seorang mukmin, pagi
harinya sudah menjadi kafir; orang-orang itu rela menjual agamanya
dengan harga yang sangat murah.” (HR. Muslim)
Analisis
dan prediksi Rasulullah SAW di dalam hadis di atas, mengisyaratkan,
bahwa seorang mukmin jangan sampai terlambat mengerjakan ibadah dan amal
shalih serta kebajikan-kebajikan lainnya, sehingga perjalanan hidupnya
dipenuhi dengan kesibukan beramal dan beribadah kepada Allah SWT,
karena takkan ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi esuk
hari; hari-hari senantiasa berubah; masa selalu silih berganti,
sementara berbagai fitnah bermunculan tiada terbendung.
Oleh
karena dahsyatnya fitnah-fitnah tersebut, sampai-sampai sangat sulit
untuk diketahui hakikatnya, ibarat berada di dalam suatu malam yang
pekat, malam yang gelap gulita, yang menyebabkan orang sangat mudah
tersesat dan tidak tahu arah; Inilah benang merah prediksi Rasulullah
SAW; bahwa di pagi hari seseorang masih dalam keadaan mukmin, tiba-tiba
di sore harinya sudah menjadi kafir (penentang kebenaran); dan
sebaliknya, di sore harinya seseorang masih menjadi mukmin, tiba-tiba
di pagi harinya sudah menjadi kafir.
Dalam kondisi
seperti inilah, analisis Rasulullah kemudian, menyatakan bahwa sangat
dimungkinkan seseorang rela menjual agamanya dengan harga yang sangat
murah; sangat mudah ia menyatakan halal terhadap perkara-perkara yang
telah diharamkan oleh Allah SWT; menyatakan haram terhadap
perkara-perkara yang telah dihalalkan Allah SWT, gara-gara hanya ingin
meraup keuntungan duniawi yang fana (tidak langgeng) ini.
Pesan kedua; “Cintai apapun yang kamu suka, tetapi ingat bahwa semuanya akan berpisah denganmu”.
Rasulullah
saw mengajarkan kepada kita agar jangan sampai terpedaya oleh
keduniaan dalam bentuk apapun (harta, anak, isteri/suami,
jabatan/pangkat, ilmu, dan sebagainya), sebab ketika kita terjebak oleh
tipu muslihat keduniaan, maka bisa dipastikan kita akan kehilangan
kepekaan hati; tidak bisa merasakan cahaya Allah SWT; hingga hati kita
gelap dan nyaris tertutup dari hidayah serta pertolongan Allah SWT.
Disaat
kita terlena oleh tipu muslihat keduniaan, sebenarnya di saat itu
juga kita sudah melepas ikatan suci dengan cahaya Allah SWT. Karena
itulah Rasul SAW mengajarkan kiat kepada kita agar harta dunia itu
takkan membelenggu kita; beliau sampaikan agar kita memanfaatkan harta
dunia itu sebagai sarana meraih cahaya Allah SWT.
Banyak
model yang telah dicontohkan oleh para pemilik dunia dikalangan
sahabat Rasul SAW.; mereka rela meninggalkan kecintaannya pada dunia
yang telah lama dikuasai demi menuju rahman dan rahim Allah SWT. Salah
satunya adalah Abu Thalhah. Beliau adalah orang Anshar yang paling
banyak hartanya. Dan harta yang paling dicintainya adalah sebuah kebun
indah yang terletak berhadapan dengan Masjid Nabawi. Kebun indah itu
bernama Bairuha’. Rasulullah sendiri biasa masuk ke kebun itu dan
menyempatkan minum airnya yang sangat jernih.
Suatu kali turun wahyu kepada Rasulullah SAW ayat 92 surat Ali ‘Imran:
“Kamu
sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum
kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa saja yang kamu
nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
Setelah
Abu Thalhah mendengar khabar akan turunnya wahyu tersebut, ia langsung
menemui Rasulullah SAW, kemudian berkata kepada beliau; “wahai
Rasulullah! Aku telah mendengar wahyu Allah yang engkau terima;
sementara aku memiliki harta kekayaan yang sangat aku cintai, yakni
sebuah kebun indah yang biasa engkau singgah disana; kebun Bairuha’.
Saat ini kebun itu aku serahkan kepada engkau dengan harapan bisa
menjadi sedekah yang aku harapkan kebajikannya dan sebagai simpanan di
sisi Allah SWT. Maka taruhlah wahai Rasulullah, sesuai yang
diberitahukan Allah kepada engkau.”
Sebagai mukmin, sudah
barang tentu kita mengetahui bahwa tujuan hidup ini adalah Allah SWT;
bukan harta, bukan tahta, dan bukan yang lainnya. Harta dunia semata
alat; semata sarana. Ia hanya menyelamatkan, jika digunakan di jalan
Allah SWT; Tetapi manakala hanya dinikmati untuk kemewahan dan
kesombongan, ia hanya akan membuat diri lalai dan selebihnya
mencelakakan.
Namun demikian, meski kita telah mengetahui,
faktanya sering hati ini tidak mau menghayati; bahwa harta dunia itu
adalah hanya alat semata. Harta dunia yang tampak langsung di depan
mata, sungguh sangat menggoda hati; meski tahu harta itu fana dan akan
abadi bila diinfakkan, hati ini masih sangat suka menyimpannya dan
terasa berat untuk mengeluarkannya di jalan Allah SWT.
Perasaan
terlalu mencintai harta seperti itu hendaknya jangan dibiarkan
membelenggu jiwa. Meski dunia ini terasa indah, hendaknya selalu
diyakinkan bahwa kita akan meninggalkan dunia ini; dan semua harta yang
kita miliki akan kita tinggalkan. Hanya iman dan amal shalih yang
menjadi bekal menghadap Allah. Kepada Allahlah kita akan kembali.
Keindahan
dunia juga dirasakan oleh Abu Thalhah. Kalau beliau menganggap harta
terindah dan paling dicintai adalah kebun Bairuha’, kita tentu juga
memilikinya. Tentu saja dalam bentuk yang lain (misalnya; perhiasan
emas, rumah, kendaraan, ladang, tanah, atau lainnya).
Andai
kita bersama-sama melakukan sebuah simulasi untuk menjatuhkan pilihan;
mana yang lebih kita cintai; “harta dunia kita” atau “Allah kah”?,
kira-kira saja kita sangat berat untuk menjatuhkan pilihan itu. Andai
kita menuliskan salah satu harta yang paling kita cintai pada secarik
kertas; lalu kita tuliskan lagi tujuan hidup kita, yakni Allah SWT pada
secarik kertas yang lain; kemudian masing-masing kita genggam
erat-erat; lalu kita bertanya kepada diri sendiri; mana yang harus kita
pertahankan dan mana yang harus kita lepas. Hati kita nampaknya akan
terasa berat melepas salah satunya; mau melepas diri dari Allah SWT
tidak akan mungkin, karena kita sangat sadar takkan melepas keimanan
hanya demi membela harta dunia yang fana; namun akan melepas harta yang
paling kita cintai rasanya juga sayang; karena selagi hidup di dunia
kita akan membutuhkannya.
Meski paparan singkat ini hanya
bayangan simulasi; hati kita sudah merasakan betapa berat memilih
salah satu dari keduanya. Mampukah kita membuat keputusan gagah seperti
Abu Thalhah ? Rasanya dengan jujur kita mengaku, bahwa hati ini masih
sangat mencintai harta dunia kita. Abu Thalhah memang mencintai
kebunnya, namun demi meraih kebajikan yang sempurna disisi Allah SWT, ia
berani melepas harta yang paling dicintainya dan lebih berpegang
kepada Allah SWT.
Pesan ketiga; “Berbuatlah kamu sesukamu, tetapi ingat bahwa kamu akan mendapat balasannya. “
“Hari ini adalah hari amal tanpa hisab, besok hari hisab dan tak lagi menerima amal” kata Rasulullah SAW.
Rasulullah
SAW., telah membuat analisis tentang keadaan umat manusia di akhir
jaman; beliau sampaikan bahwa di jaman itu manusia sudah tak lagi peduli
kepada hukum dan aturan agama; Manusia banyak adalah manusia yang
senang berbuat jahat, menentang kebenaran, bahkan bangga melakukan
maksiat di depan umum.
Diantara sekian banyak orang, lanjut
Rasulullah, hanya sedikit sekali orang yang masih mau mengikuti ajaran
Allah dan Rasul-Nya; saking sedikitnya hingga orang-orang itu mendapat
gelar “al-ghuraba” (manusia langka, manusia unik dan aneh);
disebabkan kebanyakan orang sudah tak lagi peduli kepada norma dan
ajaran agama, sementara orang-orang ini justru semakin taat kepada
Allah dan Rasul-Nya.
Kepada orang-orang langka ini, Rasul
menyampaikan jaminan akan kepastian beroleh keuntungan dan kebahagiaan
hakiki; (thuba li al-ghuraba).
Orang-orang unik ini bisa dikenali dari perilakunya, antara lain :
1.
Mereka tetap baik dan berbuat kebajikan di tengah-tengah orang-orang
brengsek (orang-orang jahat dan pekerjaannya hanya berbuat kejahatan); “alladzina yushlihuna idza fasad an-nas.
2.
Mereka tetap menghidupkan sunnah-sunnah Rasulillah SAW dengan penuh
hikmat di tengah-tengah manusia banyak yang telah melalaikan bahkan
membunuh sunnah-sunnah Rasul tersebut; “alladzina yuhyuna sunnaty ba’da amataha an-nas.
Dalam
bahasan lain Rasulullah mengilustrasikan keadaan orang-orang beriman
di jaman akhir seperti orang yang tengah memegang bara api di tangan,
sementara ia berada di tengah-tengah samudra yang tiada bertepi. Andai
bara api di lepas, ia akan kehilangan arah karena hanya bara api itu
yang bisa menyinari sekelilingnya; sementara; sementara andai bara api
tetap di pegang, ia akan berjuang mati-matian melawan panas yang tiada
terperi.
Hanya
orang-orang yang beriman kokoh saja yang mampu bertahan dalam kondisi
apapun; karena mereka tahu bahwa kebahagiaan hakiki telah menunggunya
di surga Allah yang abadi.
Selagi
kita masih di dunia; memiliki kesempatan untuk memilih, mari kita
berbenah, menata hidup dengan lebih baik lagi, agar kita bisa
memastikan diri, bahwa seluruh amal yang kita lakukan; semuanya
bernilai shalih disisi Allah SWT.
Wallahu 'a'lamu bisshawab, Asallahu an yanfaana..
Minggu, 02 Februari 2014
FARSY AT TURAAB
![]() |
| Farsy Turaab |
Beralaskan tanah...
Yang menyelubungiku
Serta menyelimuti..
Disekitarku ada pasir yang melilitku
Hingga sekujur tubuhku..
Dan ketika liang lahat menceritakan kegelapannya
Disitulah aku akan diuji
Dan ketika cahaya telah menuliskan ketetapannya
Aku melupakan pertemuanku
Aku melupakan pertemuanku
Dan keluarga keluargaku
Dimakah kasih sayank mereka ?
Mereka telah menjual janji – janjiku
Mereka telah menjual janji – janjiku
Dan sahabat sahabatku...
Kemanakah mereka semua..?
Mereka telah meninggalkan persahabtanku
Mereka telah meninggalkan persahabtanku
Dan harta hartaku,,,masihkah ia memberi kepuasannya untukku ?
Semuanya telah lenyap dariku
Dan dimanakah nama serta ketenaranku...?
Masihkah ada pujian untukku...?
Inilah akhir dari keadaanku..
Yang hanya beralaskan tanah
Dan ketika cinta telah berpisah dari kerinduannya
Dan menangisi sebuah ratapan
Dan menangisi sebuah ratapan
Dan ketika air mata telah mengering dari kelopaknya
Setelah mencucurkan air matanya
Setelah mencucurkan air matanya
Dan ketika alam semesta yang luas menjadi sempit
Maka terhempitlah aku bersama alamku
Maka jadilah semuanya itu sebuah bangkai
Itulah seumpama bumi dan langitku
Demikianlah akhir dari keberadaanku
Yang hanya beralaskan tanah
Dan ketika ketakutan memenuhi keterasinganku
Dan ketika kesedihan menerpaku
Hanyalah keteguhan hati yang ku harapkan
Karenanya adalah obat penawar bagiku
Wahai Rabb Ku... Aku memohon dengan tulus
Engkaulah satu satunya harapanku
Yang ku dambakan,
Wahai Tuhanku...Adalah surga-MU
Disanalah akan ku dapatkan ketenangan abadiku
Wahai Rabb Ku... Aku memohon dengan tulus
surga-MU Yang ku dambakan, Wahai Tuhanku
Disanalah akan ku dapatkan ketenangan abadiku
Langganan:
Postingan (Atom)


